Tampilkan postingan dengan label Artikel Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Rohani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Kesombongan Awal Kejatuhan

Daniel 5:20

 Ketika  Belsyazar anak Nebukadnezar menjadi raja, ia menjadi seorang yang sombong dan bahkan menghujat TUHAN yang maha Kudus. Ia tidak belajar dari sejarah. Ia lupa bagaimana ayahnya pernah dihukum Tuhan hingga hidup seperti hewan oleh karena kesombongannya. Belsyazar mengulanginya dengan melakukan kesalahan yang sama. Kekuasaan membuatnya tidak takut pada siapa pun, bahkan pada Allah Israel yang ia kenal melalui riwayat hidup ayahnya. Ia berani melecehkan hadirat-Nya. Tuhan menghukumnya, kerajaannya terpecah menjadi dua, dan maut menjemputnya.

Kesombongan adalah awal dari kejatuhan. Kita sudah melihat bagaimana Nebukadnezar dan Anaknya Belzyazar dijatuhkan oleh Allah oleh karena kesombongannya.

Betul memang bahwa mereka sudah mencapai kesuksesan dan kekuasaan. Tetapi sebagai manusia, pencapaian kesuksesan bukanlah alasan untuk memandang rendah TUHAN. Sebab kesuksesan dan kekuasaan sebagai seorang raja adalah atas seijin TUHAN saja.

Demikian pula dengan kita sebagai remaja. Betul memang bahwa kita harus memiliki cita-cita yang tinggi. Betul memang bahwa kita harus belajar yang sungguh-sungguh untuk menjadi seorang siswa berprestasi. Namun ingatlah selalu bahwa ketika prestasi demi prestasi dalam belajar kita raih, itu adalah atas seijin TUHAN.

Doa : Iya Tuhan ku berilah kiranya hamba-Mu kekuatan untuk menaruh tempat yang tertinggi dalam hidupku.

Senin, 15 Juni 2015

Taatilah Orang Tua-mu!

Bahan Bacaan : Kol. 3:20.
Kali ini kita akan belajar bagaimana menerapkan nilai ketaatan dalam kehidupan praktis. Firman Tuhan hari ini menekankan kepada kita demikian “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” Ini adalah satu hukum yang Tuhan tetapkan agar keteraturan dapat tercipta mulai lingkungan keluarga.
Tuhan menempatkan kedua orang tua untuk menolong kita memahami dan mengalami kasih Allah. Kasih Allah membawa kita kepada pola hidup yang benar. Hidup benar itu bermula dari lingkungan keluarga. Orang tua-lah yang pertama-tama mengajarkannya kepada kita.
Mentaati orang tua adalah hukum yang tidak bisa ditawar-tawar. Firman ini jelas mengatakan “taatilah dalam segala hal.” Memang orang tua kita bukanlah orang yang sempurna. Orang tua masih ada kekurangannya.Namun yang pasti adalah tidak ada orang tua yang menghendaki yang buruk terjadi kepada anak-anaknya. Orang tua yang baik terlepas dari kekurang sempurnaannya pastilah menginginkan agar anaknya hidup lebih baik dari padanya.
Cobalah kamu ingat-ingat perjalanan hidupmu mulai dari masa kecil. Orang tua dengan sabar mengajari dan menuntun untuk dapat berjalan, untuk dapat berbicara dengan kata dan kalimat yang baik.  Masa remaja adalah masa yang sangat kritis dalam tahapan kehidupan manusia. Karena itu jangan bosan untuk mendengarkan arahan kedua orang tua-mu. Ketika engau ada masalah, datanglah kepada orang tuamu dan mintalah bimbingannya. Taatilah mereka maka engkau akan terlindung dari hal-hal yang buruk. Hingga tiba saatnya nanti kamu beranjak dewasa dengan selamat.

Rabu, 22 Februari 2012

Seandainya orang Kristen Lupa Menginjil, Apa jadinya?

Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini:
  1. Mat 4:23  Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
  2. Mat 9:35  Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.  
  3. Mat 11:1  Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. 
  4. Mat 24:14  Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."
  5. Mat 26:13  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
  6. Mat 28:18-20 "18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." 
  7. Mar 1:14-15 "14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 15  kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
  8. Mar 1:38  Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." 
  9. Mar 8:35  Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
  10. Mar 13:10  Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. 
  11. Mar 14:9  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
  12. Mar 16:15  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 
  13. Mar 16:20  Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Kembali ke pertanyaan yang saya berikan di title dari tulisan ini, "Seandainya orang Kristen Lupa Menginjil, Apa jadinya?"Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya beberapa waktu belakangan ini. Di saat yang sama, berita-berita yang ditayangkan di televisi, dan diberitakan di koran-koran terlintas di pikiran saya. Banyak negara, dan suku bangsa porak-poranda. Mereka mengaku beragama dan percaya akan adanya TUHAN, tetapi kehidupannya tidak mencerminkan sifat-sifat TUHAN yang Maha Kasih, Maha Mengampuni, Panjang sabar dsb. Apakah ini bukti dari pengakuan tersebut? Mengaku orang Kristen, pakai salib besar-besar di leher, bahkan sampai dibuat sebagai lukisan di tubuh, namun membunuh, menipu, dan lain-lain. Apakah ini cerminan Kekristenan yang sebenarnya?



Kalau kita melihat kepada nats-nats yang dituliskan oleh penulis Injil, saya menemukan jawaban mengapa ada orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mencerminkan hidup seperti yang TUHAN YESUS contohkan. Jawabannya adalah : Orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mencerminkan pola hidup Kristus adalah:
  1. Seorang yang tidak mengalami kuasa Injil yang memerdekakannya.
  2. Seorang yang tidak  mau mengambil tanggung jawab untuk memberitakan Injil Kristus. 
Saya menuliskan ini bukan berarti bahwa saya sudah lebih dari saudara. Saya pun sedang belajar mempraktekkannya. Kiranya tulisan ini bermanfaat bagi Anda.

Kamis, 29 September 2011

Kenali Diri-mu + Kenali Tuhan-mu = Tindakan-mu

Kurang lebih sebelas tahun lamanya negeri ini sepertinya tidak henti-hentinya dari teror bom. Setiap teror bom ini disuarakan dan maupun dilakukan, menghasilkan satu ketakutan tersendiri bagi masyarakat negeri ini.  Padahal negara ini memiliki Pancasila dan UUD 45 yang di dalamnya dimuat nilai-nilai yang menegaskan akan kebebasan untuk menjalankan kehidupan bebas dari rasa terteror bagi warganya. Dimanakah kebebasan tersebut dapat ditemukan?

Negara ini juga percaya akan adanya Tuhan yang maha esa. Tuhan yang juga dipercaya sebagai Tuhan yang adil. Namun saat kapankah keadilan Tuhan ditegakkan di negeri ini? Atau apakah tidak ada lagi tempat bagi Tuhan untuk menyatakan keadilan itu?  Mengapa banyak orang yang malah mendahului untuk menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang katanya berdosa. Namun ketika penghukuman itu dijalankan dengan meledakkan bom, ternyata banyak orang tidak tahu menahu soal dosa yang dimaksudkan juga turut menjadi korban. Inikah yang disebut keadilan?

Mengapa banyak orang rela mati demi yang namanya "jihad"? Bukankah itu sama dengan bunuh diri? Agama mana yang mengajarkan bahwa bunuh diri itu mendapat perkenanan di mata Tuhan? Apakah orang yang bunuh diri akan masuk ke kehidupan yang kekal atau ke dalam neraka yang kekal?


Itulah sekedar pendahuluan untuk kita renungkan bersama.

Pada kesempatan ini saya mengajak Anda untuk melihat pesan yang disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat Kristus yang ada di daerah Efesus. Efesus 1: 1-4 :
  1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.
  2. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
  3. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
  4. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 
Apakah pesan yang dapat kita petik dari tulisan Paulus di atas?

1. Paulus mengenali dirinya dan batasan wewengannya!

Perhatikanlah kalimat yang terdapat pada ayat 1 : "Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus."
    Siapakah Paulus :
      • Secara kelahiran ia adalah seorang Yahudi, Suku Benyamin (Rom 11:5; Pilipi 3: 5)
      • Lahir dan besar di Tarsus, (Kis 9: 11; 21: 29; 22: 3),
      • Menurut pengakuannya sendiri, dia seorang Farisi, demikian juga ayahnya (Kis. 23:6). Berbicara bahasa Aram ("orang Ibrani asli"), dan diajar membuat tenda pada masa mudanya (Kis. 18:3)
      •  Menurut sejarahnya, suku Benjamin itu orang-orang yang berjiwa pejuang, dan agaknya, Paulus menyatakan semangat yang amat besar dalam semua usahanya, terutama sekali dalam penganiayaan terhadap gereja (Gal. 1:13).
      • Pada usia muda dia pergi ke Yerusalem, dan menurut kesaksiannya yang tertulis dalam Kisah Para Rasul dia belajar di bawah pimpinan Rabi Gamaliel I yang terkenal, guru yang utama pada sekolah Hilel (Kis. 22:3).
      • Sebelumnya Namanya “Saulos” – Nama asli Jahudi – harapan, dan berubah nama menjadi “Paulos” – Kecil,
      • berkewarganegaraan Romawi 
    Semua keunggulan Paulus di masa lalu ketika ia di luar Kristus, tidak membuatnya menjadi bangga. Malahan ia berkata bahwa segala sesuatu itu dianggapnya sampah oleh pengenalannya kepada TUHAN. Dari pesan ini, setiap orang akan mengenali siapa dirinya dengan baik apabila ia dapat mengenali siapa TUHAN yang kepada-Nya ia menyembah. Ketika Paulus berjumpa dengan Kristus, dan kemudian sadar bahwa Kristus menetapkannya menjadi Rasul-Nya, Ia menyikapi kerasulannya dengan cara yang bertanggung jawab.
    Itulah sebabnya ketika ia menuliskan pesan kepada jemaat di Efesus, ia sangat berhati-hati untuk menyampaikan pesan tersebut. Perhatikanlah kelanjutan dari frase “rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah.” Pengenalan Paulus kepada Tuhan sekaligus menyadarkannya untuk bertindak bukan berdasarkan kehendaknya, dan atau penilaiannya. Pengenalan akan Tuhan itu membuatnya berhati-hati dalam bertindak. Ia mengerti akan arti menghargai Tuhan dan wewenang Tuhan dalam hidupnya.
    2. Paulus mengenal siapa Tuhan yang dia layani!
    1  Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, ... 2  Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. 3  Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

    Siapakah Tuhan Yang Paulus layani :
    • Dia adalah Tuhan yang memiliki kehendak. Memiliki kehendak adalah salah satu ciri dari sesuatu yang bersifat pribadi. Jadi Tuhan bukanlah satu mitos di masa lalu, Tuhan bukanlah sesuatu yang lahir dari daya imaginasi manusia. Tuhan adalah pribadi yang ada dengan sendirinya, sebab Dia memang ada. Kehendaknya Kudus dan murni sama seperti diri-Nya adalah kudus dan murni. Dengan kehendak-Nya itu juga Ia menginginkan setiap ciptaan boleh mengalami keberadaan-Nya yang tidak terbatas. 
    • Perlu kita pahami bahwa Tuhan yang memiliki kehendak itu,bukanlah Tuhan yang mempergunakan kehendaknya dengan semena-mena. Ia berkehendak agar kita mengenal sifat ke – Bapaan-Nya. Sebagai Bapa, Ia senantiasa hadir dalam setiap aspek kehidupan kita. Tidak ada bagian dari kehidupan kita yang terlepas dari pengamatan-Nya. Bahkan hal terpenting yang sangat kita butuhkan pun Telah Ia sediakan melalui Eksistensi dan karya penebusan yang Yesus Kerjakan di bukit Golgota. Inilah satu-satunya jalan untuk kita mengalami perdamaian dengan diri Tuhan Allah yang maha kudus itu. Inilah satu-satunya jalan untuk menjembatani kita dengan Tuhan yang maha kudus, sehingga tidak ada lagi penghalang yang menghalangi kita untuk mengalami kehidupan yang berkualitas di kekekalan sana.

    3. Paulus hidup untuk memuji Allah
    Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. (Efesus 1: 3)
     Pengenalan yang benar akan siapa Tuhan dalam hidup kita memberikan penilaian yang benar akan hal siapa kita dan mengapa kita ada dimuka bumi ini. Tuhan tidaklah salah menempatkan Anda di bumi ini.
    Tahukah Anda bahwa hidup yang Anda jalani saat ini hanyalah anugerah dari sang Tuhan? Hidup di muka bumi ini hanyalah berbicara tentang dua huruf penting, yaitu B dan D. Huruf B berbicara tentang Birthday, yaitu hari lahir, dan huruf  D berbicara tentang death day. Di antara B dan D itu ada yang disebut dengan rentang waktu yang disebut waktu. Anda mungkin tahu hari kelahiran Anda, karena sudah terjadi. Tetapi tahukah Anda kapan saatnya kematian itu menjemput Anda dalam cara yang Tuhan kehendaki? " ........... " tidak seorang pun yang mengetahuinya kecuali mereka yang dengan sengaja memutuskan untuk menyudahi kehidupannya.
    Tahukah Anda bahwa sekali pun Anda mati secara fisik, bukan berarti kehidupan Anda berakhir seratus persen? Namun di kehidupan yang manakah Anda nantinya di kekekalan, itu tergantung kepada satu huruf di antara B dan D, yaitu huruf C. Huruf C berbicara tentang "Choice."  Dalam cara yang bagaimana Anda memilih untuk menjalani kehidupan ini, dan dengan cara bagaimana Anda memilih untuk mengakhiri kehidupan di dunia ini akan menentukan kehidupan kekal apa yang akan Anda jalani nantinya.   

    Tuhan menghendaki agar kita menjalankan hidup yang berkualitas. Sebab hidup yang demikian mencerminkan siapa Tuhan yang Anda sembah. Semakin baik Anda memanfaatkan hari-hari yang Tuhan berikan kepada Anda, semakin besar citra TUHAN terpancar dari hidup Anda. Dengan demikian maka hidup Anda menjadi puji-pujian bagi kemuliaan Dia yang Anda yakini sebagai Tuhan.
    3. Paulus mengetahuilah untuk apa Allah memilihnya!
    Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Efesus 1: 4)
    Allah Tahu saat yang tepat untuk menentukan pilihan-Nya atas setiap kita. Allah memilih kita tidak berdasarkan campur tangan pihak lain. Ia memilih kita berdasarkan predestinasi-Nya. Oleh Karena itu, sepatutnyalah kita serius menyikapi keputusannya untuk memilih kita menjadi milik-Nya.
    Ketika Tuhan Allah memilih kita, Allah mengetahui tujuan-Nya mengapa Ia memilih kita. Satu-satunya tujuan-Nya adalah agar kita menjadi kudus. Sama seperti Ia adalah kudus. Ia berkehendak agar kita tidak lagi kompromi dengan pola-pola dunia ini, melainkan mengadopsi pola sorgawi yang kita aplikasikan dalam kehidupan kita setiap hari. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, peraih Nobel Perdamaian 1993 "Afrika Selatan tidak akan maju tanpa pengampunan." Nelson Mandela tidak membalaskan perbuatan keji dari tokoh-tokoh apartheit di negaranya,melainkan memberikan pengampunan atas mereka. Ia lebih memilih untuk menyerahkan pengadilan kepada Tuhan. Sekali pun ia sudah duduk di kursi kekuasaan, ia tidak menggunakan kekuasaan itu menjadi kesempatan untuk menghukum mereka yang pernah menjebloskannya ke dalam penjara. Dampaknya, Tuhan memberkati Afrika Selatan. Apakah Anda rindu keberkatan yang sama melanda Indonesia? Kenali diri Anda, Kenali Tuhanmu, niscaya kedua pengenalan ini akan menolong Anda untuk memilih menjadi agen perdamaian di negeri ini.
    Kiranya tulisan ini bermanfaat bagi Anda. Indonesia penuh damai. Tuhan Memberkati.

    Jumat, 09 September 2011

    Bahagia mungkinkah saya mengalaminya?

    Setiap orang berharap agar hidup bahagia. Kalau kita bertanya kepada orang-orang yang kita jumpai, "apa yang ingin Anda dapatkan dalam hidup ini?" Rata-rata akan menjawab "saya ingin bahagia".
    Apakah definisi bahagia itu? Bagi kebanyakan orang,mereka mendefinisikannya sebagai berikut :
    • Memiliki rumah bagus, mobil mewah, istri cantik/suami yang ganteng dan anak-anak yang lucu
    • Hidup tenteram dan tidak punya banyak masalah.
    • Mendapatkan seseorang yang mencintai dan dicintai seumur hidup.
    • Menjadi diri sendiri.
    • Bebas melakukan sesuatu dan tidak terikat orang lain.
    • Terlepas dari keadaan yang membuat stres.
    Menurutkamus besar bahasa Indonesia Bahagia adalah :
    1. keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dr segala yg menyusahkan): -- dunia akhirat; hidup penuh --; 2 a beruntung; berbahagia: saya betul-betul merasa -- krn dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga; ber·ba·ha·gia a 1 dl keadaan bahagia; bahagia; 2 v menikmati kebahagiaan; bahagia;

    Bahagia mungkinkah saya mengalaminya? Itulah satu pertanyaan yang perlu saya ajukan pada diri saya. Setelah menyelidiki kitab Yakobus 1:25 : Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

    Kitab Yakobus adalah surat yang dituliskan oleh Yakobus saudara Yesus. Yakobus adalah seorang pemimpin jemaat di Yerusalem. Ia adalah saudara Tuhan Yesus(Mat 13:55) Suratini dikirimkan oleh Yakobus kepada dua belas suku Israel di perantauan. Dalam pembukaan suratnya, Yakobus menyinggung hal pencobaan dan kebahagiaan. Perhatikanlah ayat 2 dan 12, dan juga ayat 25. Kalau kita perhatikan sekilas hal penerima surat ini, Yakobus tidak memberikan klasifikasi usia dari penerimanya. Mereka adalah orang percaya yang sedang mengalami berbagai-bagai penderitaan dan  pencobaan. Namun Yakobus tetap saja menyinggung hal bahagia atau berbahagia dalam hidup sebagai orang percaya.

    Setiap orang percaya dapat mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.
    Bagaimanakah agar Setiap orang Muda dapat mengalami kebahagiaan dalam hidupnya
    Syarat-syarat agar setiap orang muda dapat mengalami kebahagiaan dalam hidupnya:

    Ia adalah seorang percaya yang suka meneliti hukum yang sempurna! Meneliti dalam konteks ini berarti bergerak masuk untuk mengenal secara detil sampai memahami intisari dari hukum itu. Karena itu, orang percaya haruslah bekerja keras untuk benar-benar melakukan penyelidikan itu. Ini bukanlah pekerjaan yang sepele. Orang percaya tersebut haruslah benar-benar menyelidikinya dengan sepenuh hati. Hukum /nomos adalah satu kata yang mewakili hukum-hukum /perintah-perintah TUHAN yang terdapat dalam kitab-kitab PL dan juga PB. Yakobus menegaskan kembali pesan yang pernah Yesus katakan kepada murid-murid-Nya tentang kekuatan hukum itu. Perhatikanlah kutipan berikut ini:


    Yoh 8:31-32:  31  Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32  dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." dan bandingkanlah dengan Yakobus 1: 25.
    Hukum itu mempunyai kekuatan untuk memerdekakan jiwa dan raga setiap orang percaya.

    Ia adalah seorang percaya yang hidup dengan Bertekun dalam Hukum itu! Hukum Tuhan adalah hukum di atas segala hukum. Jadi tidaklah mudah untuk melakukannya. Namun Yakobus menegaskan bahwa jikalau kita ingin berbahagia, kita harus melakukannya sesuai dengan tuntutan hukum itu. Setiap orang yang ingin berbahagia, haruslah berkomitmen untuk hidup di dalamnya secara terus-menerus. Saat kapan kita akan disebut sebagai orang yang bertekun? Jawabannya sederhana: kita akan dikelompokkan sebagai orang yang berbahagia apabila kita masih mengerjakan tuntutan-tuntutan hukum itu sekalipun situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk mengerjakannya.

    Kiranya tulisan ini bermanfaat.

    Senin, 22 Agustus 2011

    Belajar Memaknai kemerdekaan dari kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego!

    Daniel  1-3


     Pendahuluan
     66 tahun sudah negeri ini merayakan kemerdekaanya, namun faktanya esensi dasar dari kemerdekaan itu tidak juga terealisasi dalam praktek hidup masyarakatnya.  Masih banyak masyarakat negeri ini hidup dalam taraf hidup dengan kualitas rendah. Pemberitaan di Kompas Cyber mengungkapkan definisi kemerdekaan menurut Presiden hanyalah sebatas merdeka dari penjajahan negara asing. Faktanya penduduk negeri ini masih banyak mengalami penindasan di mana-mana.  Dulu negara kita dijajah oleh bangsa asing, sekarang negara ini dijajah bangsa ini sendiri.  Metrotv  sempat menayangkan satu pertanyaan : Indonesia sudah merdeka; sudahkah kita merdeka? Padahal negeri ini mengaku memiliki dasar negara yang baik, yaitu Pancasila.  Sila pertama berbunyi : “Ketuhanan yang maha esa”  Ini sesuai dengan undang-undang dasar 45 yang menjaminkan kebebasan menjalankan ajaran agamanya,  namun hanya segelintir orang saja yang dapat menjalankannya.  Perhatikanlah Kutipan berikut ini (dikutib dari : http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45) :

    BAB XI AGAMA

    Pasal 29
    (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
    (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

    Dimanakah wujud kemerdekaan itu sendiri?

    Sudah lupakah penduduk negri ini dengan  sejarahnya. Sudah lupakah negara ini mengapa para pejuang kemerdekaan mempertaruhkan nyawanya demi negeri ini? Apakah negeri ini sudah seperti beberapa pemimpinnya yang sakit lupa ingatan? Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan komponen bangsa ini mulai dari lapisan teratas sampai lapisan bawah. Mulai dari pemimpin-pemimpin bangsa ini sampai kepada  masyarakat kecil.  Lalu benarkah negara ini sudah merdeka?
    Hari ini, marilah kita belajar “Memaknai kemerdekan dari persfektif tokoh Sadrakh, Mesak dan Abednego” Mereka adalah tokoh yang tidak asing lagi bagi kita semua. Kisahnya sungguh menarik untuk kita baca. Kisahnya tidak habis-habisnya untuk kita bahas. Dan kisah hidup mereka memberikan bukti kepada kita bahwa orang muda dapat memaknai kemerdekaan dengan cara yang benar.  Kisah hidupmereka memberikan bukti kepada kita bahwa orang muda dapat menjadi history maker generation.
    Sebelum kita membahas tentang bagaimana mereka memaknai kemerdekaan sebagai umat pilihan Allah, terlebih dahulu saya mengajak rekan-rekan sekalian untuk membaca nas yang saya kutip dari kitab Galatia 5: 1,13; dan 1 Petr 2: 16 berikut ini:
    • Galatia 5:1  Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

    • Galatia 5: 13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

    • 1 Petrus 2:16  “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.”

    Camilo Jose Cela (1916–2002), penulis Spanyol, peraih Nobel Sastra 1989

    "Ada dua jenis manusia: satu yang mengukir sejarah dan satu lagi yang memikul beban akibatnya.”

    Sadrakh,Mesakh,dan Abednego adalah tokoh yang memaknai kemerdekaan dengan cara yang benar.
    Bagaimanakah Sadrakh,Mesakh,dan Abednego adalah tokoh yang memaknai kemerdekaan dengan cara yang benar?
    Berikut ini beberapa makna kemerdekaan dalam persfektif Sadrakh,Mesakh,dan Abednego: 

    I.           Orang  merdeka  adalah  orang  yang  berpegang pada  prinsip  hidup nya  yang  benar !
    Daniel 1 : 7  “Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.”
    Mereka adalah tiga orang muda yang ikut ditawan oleh Nebukadnezar di Babelonia. Sebagai tawanan, seharusnyalah mereka mengalami nasib yang sama dengan tawanan lainnya.Namun, status  yang kasad mata tidak  serta merta membuat mereka menjadi orang jajahan. Mereka sadar bahwa mereka berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. 
    Badan mereka boleh ditawan, tetapi roh mereka tetap bebas – merdeka untuk mengikuti perintah TUHAN semesta Alam. Hal ini dapat kita lihat dari peristiwa-peristiwa yang mereka alami menurut catatan Daniel, al. :
    ›      Daniel 1  : 1  “Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu.”
    ›      Ketika mereka di bawa dari Yerusalem, mereka menetapkan hati untuk tetap menyembah kepada TUHAN, dan ketika mereka tiba di Babelonia, yaitu negara yang tidak mengenal TUHAN dan cara beribadah yang selama ini –Sadrakh, Mesakh dan Abednego jalankan, prinsip hidup mereka pun tidak berubah.
    ›      Sekali beribadah kepada TUHAN, selamanya harus beribadah kepada-Nya
     Aplikasinya : Marilah kita mengisi kemerdekaan yang telah Tuhan berikan kepada kita dengan mengacu kepada kebenaran. Jangan mudah terombang-ambing oleh berbagai-bagai godaan yang ditawarkan oleh sekitar kita.

    II.         Merdeka tidak berarti identik dengan  “hidup tanpa masalah.”
    Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang senantiasa berketetapan hati untuk hidup dengan prinsip yang benar di hadapan Tuhan, dan  TUHAN menganugerahi mereka dengan excellensi (Dan 1: 8-16), dan juga kedudukan penting sebagai pemerintah wilayah (Setingkat Gubernur) di Babel ( Dan 2: 49).
    Daniel tidak mencatatkan bahwa mereka hidup tanpa masalah. Justru karena ketetapan hati mereka itu untuk hidup sebagai orang merdeka, Daniel mencatat bahwa ada masalah-masalah besar yang mengancam jiwa mereka. Daniel 1: 8 - 16
    8. Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.  9  Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;  10  tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: "Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja."
    11. Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:  12  "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;  13  sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu."
    14  Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.  15  Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. 16  Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.  17  Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.

    Masalah yang dihadapi oleh Sadrakh,Mesakh, dan Abednego:
    • Godaan untuk menajiskan diri dengan hal-hal yang dilarang Tuhan berhubungan dengan tubuh fisik mereka (Daniel 1),

    • Mimpi raja yang menyebabkan nyawa mereka terancam, tetapi Allah menyelesaikannya ketika mereka berharapkepada TUHAN (Dan 2). Malah mendapat jabatan sebagai gubernur (Dan 2:49  Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.)

    • Perintah raja Nebukadnezar untuk menyembah dewanya dan menyebabkan mereka harus dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala 7 kali panasnya (Dan 3).

    • Merdeka tidak berarti identik dengan  “hidup tanpa masalah.”

    • Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang senantiasa berketetapan hati untuk hidup dengan prinsip yang benar di hadapan Tuhan , dianugerahi TUHAN dengan excellensi, dan juga kedudukan penting sebagai pemerintah wilayah (Setingkat Gubernur) di Babel ( Dan 2: 49).

    • Nebukadnezar mendirikan patung  dan mengharuskan seluruh  penghuni daerah kekuasaannya  menyembah patung emas itu setiap kali mendengarkan bunyi-bunyian. Bagaimana mereka menyikapinya?

    • Merdeka  berarti percaya sepenuhnya kepada Allah   (Dan 3: 12 – 18)

    • Sadrakh Mesakh dan Abenego sadar betul bahwa Allahlah pembebas yang sejati, karena itu hanya kepada-Nyalah rasa takut dipersembahkan,

    • Sadrakh Mesak dan Abednego lebih memilih mempercayai Allah yang kekal dari pada janji penguasa yang fana. Dalam hal ini mereka tidak meragukan kesanggupan Allah-nya. Perhatikanlah Daniel 3: 12-18 berikut ini:

    Senin, 15 Agustus 2011

    Melayani TUHAN di Dunia Kerja


    Kolose 3: 23-25

    Pendahuluan :

    Dahulukan yang Paling Penting

    Seorang profesor berdiri di depan kelas filsafat. Saat kelas dimulai, dia mengambil stoples kosong dan mengisinya dengan bola-bola golf. Kemudian ia bertanya pada murid-muridnya, "Apakah stoples sudah penuh?" Para murid setuju!! ... (dikutip dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=422029224159)
    Kalau kita menyimak cerita tadi, sering kali dalam dunia kerja, terjadi sikap seperti yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut. Benar tidaknya fakta bukan menjadi masalah, yang penting ABS.


    Proposisi : Setiap Pekerja Kristen haruslah memandang pekerjaannya sebagai satu pelayanan

    Pertanyaan : Bagaimana Setiap Pekerja Kristen harus memandang pekerjaannya sebagai satu pelayanan?

    Peralihan : syarat-syarat Bagaimana Setiap Pekerja Kristen harus memandang pekerjaannya sebagai satu pelayanan

    I. Lakukalah pekerjaan itu dengan hati.

    Col 3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

    Dalam ayat ini, Paulus menekankan bagaimana seorang pekerja Kristen harus bersikap di lingkungan pekerjaannya. Pekerja Kristen haruslah menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan orang yang tidak Kristen.

    Kalau kita kembali kepada nats yang kita baca tadi, nats ini menekankan ”taatilah tuanmu (pimpinanmu) yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka.” syarat ini berat bukan? Kalau kita memandang dengan kaca mata manusia duniawi, tentu ini satu perkara yang berat. Namun kita melihat dengan kaca mata manusia rohani, ini bukanlah satu perkara yang susah.

    Paulus memberikan kunci bagaimana agar seorang pekerja kristen dapat bersikap seperti yang saya sebutkan tadi. Paulus mengatakan ”karena takut akan Tuhan.” apa maksud dari phrase ini? ”Takut akan Tuhan” memiliki arti bahwa kita haruslah :

    1. Mengenal dengan benar TUHAN yang kepada-Nya kita beribadah. Tuhan yang kepada-Nya kita beribadah seperti pada hari ini adalah supreme Divinity. Dia adalah pribadi yang ada dengan sendirinya, penuh kuasa, dan patut dihormati.

    2. Sadarilah bahwa sebagai pribadi yang supreme divinity, Allah tidak dapat dibatasi oleh waktu, tempat, dan mau pun situasi. Sehingga segala sesuatu yang kita pikirkan, rencanakan, sembunyikan, dan lakukan semua terbuka bagi-Nya.

    3. Kesadaran akan keberadaan Allah, menentukan bagaimana sikap kita memandang kewenangan seorang pimpinan. Ketika kita sadar bahwa Allah itu sungguh ada, seharusnya kita pun menyadari seberapa besar kuasa TUHAN atas hidup kita.

    Kesadaran inilah yang memacu kita untuk mentaati perintah-perintahnya. Frase tersebut di atas mengajar kepada kita bahwa sekalipun pemimpin tidak hadir secara fisik, tetapi otoritas yang ada padanya seharusnya kita hargai.

    II. Bekerjalah Seperti untuk TUHAN (melayani).

    . Kita sudah belajar mengenal siapakah TUHAN. Tuhan bukanlah pribadi yang bisa kita tipu. Apa pun yang kita pikirkan, rencanakan, rahasiakan bagi-Nya tidak ada yang tersembunyi. Oleh karena itu, sebagai umat yang menyadari siapa TUHAN-nya, Paulus Col 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia

    Ayat ini menekankan pentingnya seorang pekerja Kristen melihat aktivitas kerja itu sebagai satu pelayanan kepada TUHAN.

    Ketika kita menyadari bahwa pekerjaan adalah satu pelayanan kepada TUHAN, seharusnyalah kita menyadari bahwa tidak ada aturan dalam Alkitab yang memperbolehkan seorang pelayan TUHAN melayani dengan cara yang asal-asalan. Seorang pelayan TUHAN menurut standart Alkitab haruslah melayani TUHAN dengan persiapan khusus, dan dengan cara yang khusus seperti yang TUHAN kehendaki.

    Jadi kalau kita tarik korelasinya kedunia kerja, maka seorang pekerja Kristen dituntut untuk memiliki kualitas kerja yang unggul. Artinya seorang pekerja Kristen harus memotivasi dirinya agar bekerja bukan hanya untuk memenuhi kuota rata-rata. Pertanyaan saya, ”pernahkah Anda berfikir mengapa ada di sini?” Satu penjelasan sederhana yang dapat saya berikan adalah “TUHAN menetapkan Anda di sini untuk melayani-Nya melalui profesimu.” jadi sadarilah bahwa pada hakikatnya Anda adalah pelayan TUHAN.

    Kalau kita mau jujur mengakui, sering kali orang memahami kerja seperti ini sebagai pekerjaan dalam kelompok sekuler. Namun di ayat ini Paulus mencoba memberikan pemahaman kepada kita, bahwa sekali pun Anda bekerja di dunia usaha, dan bukan di gereja, ketahuilah bahwa tidak ada istilah sekuler dan rohani. Di mana pun seorang percaya bekerja, maka ia harus menyadari bahwa ia sedang bekerja untuk kemuliaan TUHAN-nya. Oleh karena itu, maka ia harus memacu dirinya untuk bekerja sebaik-baiknya. Dengan berbuat demikian, maka seorang pekerja Kristen akan bekerja dengan kualitas unggul.

    Andrie Wongso Bila TARGET BESAR telah kita tetapkan untuk dicapai, maka jangan bimbang dan ragu. Ingat! Setiap kesuksesan besar membutuhkan komitmen tinggi untuk mencapainya!

    III. Bekerjalah untuk TUHAN, bukan untuk upah yang fana.

    Kol 3:24 ”Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”

    Dalam dunia kerja, adalah hal yang wajar berpendapat “bekerja berarti mendapatkan upah yang setimpal.” Tetapi alangkah naifnya jika seorang pekerja menginginkan gaji yang besar dengan berbagai fasilitas ini dan itu, sementara prestasi kerjanya biasa-biasa saja.

    Beberapa waktu yang lalu, salah satu stasiun radio swasta menyiarkan maraknya praktek kerja dalam lingkungan kepolisian yang dikenal dengan istilah 107, yang artinya 1 jam apel, tidak mengerjakan apa-apa, dan jam 7 pagi kembali ke kantor.

    Saudara yang kekasih di dalam TUHAN, TUHAN menentang prinsip kerja yang seperti ini. Penulis Alkitab menyatakan kepada kita bahwa pada dasarnya TUHAN tidak menentang pikiran mengenai upah. Alkitab jelas membuktikan kepada kita bahwa itu memang merupakan hak setiap pekerja. Sebagai contoh : Yesus menyatakan dalam Luk. 10: 7 “Sebab seorang pekerja patut mendapatkan upahnya.” Dan di bagian lain, Paulus mengecam orang-orang yang malas dengan berkata “Siapa tidak bekerja janganlah diberi makan.”

    Jadi apa sebenarnya yang dipesankan oleh Paulus dalam nats ini adalah baiklah kita bekerja dengan penuh ketaatan kepada TUHAN. hal ini dibuktikan dengan ketaatan kita untuk mengikuti rule yang telah ditetapkan oleh perusahaan dimana kita bekerja.

    Coba perhatikan kutipan-kutipan kata-kata hikmat berikut ini :

    Mario Teguh dalam (MT Personal Rule 35-40-45) mengatakan : "Sejak muda saya belajar dan bekerja keras TIDAK UNTUK MENCARI UANG sampai usia 35 tahun.Saya tidak mendasarkan keputusan pribadi dan karir atas jumlah uang, tetapi atas kegunaannya bagi kekuatan jiwa, kebaikan nama, dan kompetensi profesional saya....
    Jika kita tidak berfokus pada uangnya, kita MENJADI LEBIH PANTAS DIBAYAR LEBIH MAHAL DAN LEBIH AWAL."

    Oprah Winfrey berkata : “Doing the best at this moment puts you in the best place for the next moment.” dan Mike Melville”What you want to do, and what you can do, is limited only by what you can dream.”

    Perhatikanlah lirik lagu berikut ini yang saya kutip dari :
    (http://www.andriewongso.com/awartikel-1741-Artikel_Tetap-Every_One_Is_Number_One)

    Everyone is number one

    Penyanyi: Andy Lau
    Suara terjemahan oleh : Andrie Wongso

    Jalanku bukanlah jalanmu, deritaku bukanlah deritamu
    Setiap manusia memiliki potensi guna menaklukan segalanya
    Airmataku bukan airmatamu, sakitku bukan sakitmu
    Langit yang sama, kebanggaan yang berbeda, satu dalam perasaan.

    Jangan gelisah dan menistai diri sendiri
    Diperlukan ketenangan dan ketegaran
    Asalkan mau menerjang ke depan, katakan pada diri sendiri, Aku dilahirkan pasti berguna!

    Everyone is number one,
    Asalkan kau tidak selalu bertanya, mampu atau tidak. Satukan energi, raihlah mimpi di dalam hidupmu untuk menyongsong masa depan dan janganlah menunggu.

    Everyone is number one,
    kunci sukses ada di tanganmu, mau atau tidak
    Alirkan keringat yang paling panas, genggamlah hati yang paling tulus
    Number one adalah milik setiap orang.

    Tanganku bukan tanganmu, mulutku bukan mulutmu
    Hanya dibutuhkan sebuah hati, badai dan hujan deras dapat menjadi kawan baik kita.

    Janganlah takut dinginnya perjalanan walaupun sampai pada sedikitnya kehangatan yang tersisa. Aku tetap akan menerjang dengan sekuat tenaga.
    Everyone is number one! Setiap Orang Adalah Nomer Satu ! Luar biasa!

    Apa yang Anda harapkan di masa depan? Bangunlah hari ini. Jangan pernah berhenti, berusahalah bukan untuk uang, tetapi untuk melayankan satu karya yang terbaik.

    God Bless YOU ALL.
    Manto Manurung, S.Th.

    Selasa, 26 April 2011

    Kehidupan Doa Yang efektif

    Yoh14: 12-14
    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

    Matius21 : 21-22
    Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

    Matius11: 25-30
    Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.
    Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
    Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
    Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

    Keefektifan doa-doa yang kita panjatkan kepada TUHAN dipengaruhi oleh :
    A. Pengenalan kita Kepada pribadi Tuhan (Mat 11 : 27).

    Bagaimanakah kita dapat mengenal Allah?
    Di dalam doa Yesus jelas tersirat bahwa kitadapat mengenal pribadi Tuhan yang sebenarnya melalui Yesus.
    Dia telah menempuh jalan yang sangat tidakmanusiawi karena kasih-Nya kepada manusia.
    Yesus dalam kemanusiaan-Nya menundukkan dirikepada kehendak Allah Bapa, demikian jugalah seharusnya kita dalam setiap doakita.

    Selama tahun1990-an jutaan orang ateis di Rusia berbalik meninggalkan ateisme dan kembalikepada Tuhan. Seorang professor di St.Petersburg yang bidang keahliannya adalah astronomi membuat satu pernyataanyang menggambarkan komentar yang dibuat oleh banyak ateis yang telah berubah dinegara bekas Uni Soviet itu: “Saya telah mencari arti hidup dalam risetilmu pengetahuan saya, tetapi tidak menemukan apa pun untuk dapat sayapercayai. Para ilmuwan di sekitar saya mempunyai perasan hampa yangsama. Bila saya melihat luasnya jagad alam ini melalui penelitianastronomi, dan kehampaan jiwaku, saya merasa pasti ada sesuatu di situ yangbermakna. Lalu, ketika saya menerima Alkitab yang Anda berikan dan mulaimembacanya, kehampaan hidupku ini terisi. Saya menemukan Alkitab menjadisatu-satunya sumber keyakinan bagi jiwa saya. Saya telah menerima Yesussebagai Juruselamatku, dan telah menemukan kedamaian dan kepuasan sejati didalam hidup ini.”


    B. Seberapa besar kepercayaan kita kepada Tuhan (Yoh 14: 12).
    “barangsiapa percaya kepada-Ku (Yoh 14 : 12),… Danapa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan (Mat 21 : 21-22)”
    Percaya berasal dari kata Yunani “pistis” yang berarti : menghormatikepercayaan hubungan manusia kepada Allah.
    Percaya karena mengenal kesetiaan Tuhan untukmenggenapi janji-janji-Nya kepada manusia.

    Pada suatu kaliJim bertanya kepada seorang ateis (orang yang tidak mengakui adanya Tuhan)apakah ia pernah bergumul, walaupun hanya untuk beberapa saat saja, bahwa mungkinTuhan itu ada.

    “Tentu!” kata ateis itu yang membuatJim kaget. “Bertahun-tahun yang lalu, ketika anak kami yang pertamalahir, saya hampir menjadi seorang yang percaya akan Tuhan. Pada waktusaya memperhatikan manusia kecil tetapi sempurna itu di tempat tidur bayi,ketika saya memperhatikan lenturan jari-jari kecil mungil dan melihat matanyayang kecil yang mulai mengenali sekitarnya, untuk jangka waktu beberapa bulanlamanya saya hampir berhenti menjadi seorang ateis. Dengan melihat anak itusaya hampir diyakinkan bahwa Tuhan itu ada.”


    C. Respon kita kepada panggilan TUHAN (Mat 11 : 28).

    “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu danberbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

    Thayer Thayer Defining "Come" as
    1) come hither, come here, come
    2) interjection, come!, come now!

    Melalui pernyataan-Nya di dalam nats ini kita melihat bagaimana Tuhan memanggil setiap orang yang mengalamikepenatan di dalam kehidupan rohaninya. Melalui pemanggilan tersebut, Tuhan menghendaki agar setiap orang meresponi panggilan itu. Mengapa? Karena ketika orang-orang meresponi panggilan itu, kepadanya TUHAN menyatakan berkat kelegaan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ketika kita jauh dari Tuhan, maka perkara-perkara dunia ini lah yang mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Perlu kita mengingat bahwa sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, kehidupan manusia di dunia ini sudah dipengaruhinya sedemikian rupa. Sejak saat itu kehidupan manusia bukan semakin baik, namun semakin terpuruk. Namun kita patut bersyukur, bahwa TUHAN tetap setia dalam kasih-Nya kepada manusia. Ia memanggil kita untuk mengalami kelegaan kekal. Bagaimana respon kita? Salah satu cara kita meresponi panggilan-Nya adalah dengan meluangkan waktu, teliga, hati dan seluruh keberadaan kita.

    D. Ditentukan oleh seberapa besar iman kita kepada Allah (John 14: 12).


    "Joh 14:12-14: " Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. (bdk) Matt. 21: 21-22: "Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

    Kata percaya dalam kedua kutipan tersebut menggunakan akar kata yang sama "pistis". Dalam kata ini terkandung makna : "bahwa Allah adalah pribadi yang patut dipercaya sebab ia adalah pribadi yang setia, dan benar layak untuk dipercaya." Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima apa yang sudah difirmankan-Nya itu.

    Senin, 14 Maret 2011

    Bagaimana orang Kristen menyikapi masalah? (part 2)

    Masalah, persoalan, pencobaan, ujian atau apa pun namanya bukanlah hal baru dalam kehidupan setiap orang, baik yang digolongkan orang percaya TUHAN atau percaya hantu. Selama manusia masih hidup di  dunia ini, bisa kita katakan bahwa masalah unsur yang selalu mewarnai kehidupan manusia. Kalau begitu apa pentingnya membahas tentang masalah.


    Bagi beberapa orang, baik yang memakai cap Kristen dan bukan, masalah dipandang seperti moster yang sangat menakutkan dan tidak mungkin dapat di selesaikan. Akibatnya, orang seperti ini menyelesaikan masalah tersebut dengan menghasilkan masalah baru. Ada yang menyelesaikannya dengan jalan pintas alias bunuh diri. Ada yang berusaha pergi ke orang yang katanya pintar eeeeeeeeeee ternyata ga pintar.

    Beberapa orang memandang masalah sebagai suatu kenikmatan. Apa alasanya?
    1. Masalah adalah sarana untuk melatih pengenalan kepada TUHAN
    2. Masalah membuatnya semakin kuat karena semakin terlatih untuk menolong orang bermasalah dalam menyelesaikan masalah mereka.
    3. Masalah adalah sarana untuk membuatnya semakin merendahkan diri dan hati kepada sang pencipta.
    4. dll.
    Di sini kita dapat melihat bahwasanya masalah itu adalah sesuatu yang unik. Masalah dapat menjadi lebih kuat apabila kita lemah, dan masalah yang sama juga dapat menjadi lemah dan tak berdaya apabila kita lebih kuat dari padanya. Perhatikanlah bacaan berikut ini yang akan menolong kita menyelesaikan masalah dengan cara yang benar.

    Bahan bacaan : Mat 8:5-10
    5. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6  "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7  Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."  8  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10  Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
    Dalam pembacaan tersebut, seorang perwira ini memiliki persoalan yang sangat berat, yaitu hambanya sakit dan sangat menderita. Perwira ini tahu bahwa persoalan itu tidak dapat diatasinya. Sekali pun ia berkesempatan untuk mendapatkan hamba lain yang lebih sehat, namun perwira itu tidak melakukannya. Ia berusaha mencari jalan keluarnya. Hingga suatu waktu ia menemukan jalan keluarnya ada di dalam YESUS. Ia melepaskan semua jabatan dan harta bendanya, kemudian merendahkan diri di bawah kaki YESUS. Ia mengambil jalan yang paling tepat, yaitu dengan memintakan pertolongan kepada TUHAN YESUS. Hasilnya TUHAN menyembuhkan hambanya.

    Ketika kita mengahdapi masalah, dan persolan apa pun, mari jangan pandang persoalan itu saja, tetapi datanglah kepada Yesus dengan hati yang penuh percaya kepada kesanggupan-Nya untuk menolong kita.

    Rabu, 02 Maret 2011

    Bagaimana orang Kristen menyikapi masalah?

    Menjadi orang Kristen adalah satu keputusan yang harus dijaga terus menerus. Menjadi orang Kristen bukanlah alasan untuk menghindar atau terlepas dari masalah. Menjadi orang Kristen berarti memberi diri untuk belajar melakukan setiap perintah.


    "17. Tuhan Yesus tidak pernah berjanji bahwa apabila kita mengikut Dia, semua ditanggung beres. Perhatikanlah apa yang TUHAN katakan dalam Injil Yohanes berikut ini :18  "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.
    19  Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. 20  Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. 21  Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku." (Yohanes 15: 17-21)
     Sekarang jelaslah bagi kita bahwa menjadi orang Kristen itu tidak mudah. Bagaimanakah kita menyikapi hal ini? Sebelum memberikan jawabannya, mari perhatikanlah yang berikut ini:
    " 1  "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. 2  Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. 3  Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. 4  Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."  "Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu, 5  tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? (Yohanes 16: 1-5)
    TUHAN menghendaki agar kita jangan menyerah, namun semakin tekun untuk mengenal DIA.

    Rabu, 09 Februari 2011

    Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup

    Matius 16:13-20
    oleh Boyro Purba Siboro

           Setelah melakukan banyak mujizat, menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan dengan hanya satu kali ucapan membuat Yesus sangat terkenal dan juga dicari-cari oleh orang.  Pada saat Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya  Ay.13, kata orang, siapakah anak Manusia itu?  Murid-Nya lalu menjawab Ay.14, bahwa ada banyak orang yang berkata Yohanes Pembabtis, ketika itu Yohanes Pembabtis telah mati martir kepala dipenggal dan didalam pribadi Yesus tersebar kabar ada roh Yohanes Pembabtis.  Ada juga orang bilang bahwa Yesus adalah Elia, nabi Elia adalah seorang nabi besar yang sangat banyak melakukan mujizat sama seperti Yesus juga melakukan mujuzat.  Ada juga
    orang bilang bahwa Yesus adalah nabi Yeremia, nabi Yeremia adalah nabi yang selalu berkhotbah dan membuat hati banyak orang terharu dan berpengharapan.  Yesus juga sama seperti nabi Yeremia adalah pengkhotbah yang penuh kuasa.  Ada juga orang yang bilang bahwa Yesus adalah salah satu diantara para nabi yang diutus oleh Allah.

    Sampai hari ini jika kita jujur untuk melihat pendapat orang lain siapakah Yesus itu maka kita akan menemukan banyak pendapat tentang siapakah Yesus.  Orang Islam berpendapat bahwa Yesus adalah hanya seorang nabi, orang-orang liberal berpendapat bahwa Yesus adalah seorang tokoh yang membawa etika tentang kemanusiaan dan salah satu dari tokoh-tokoh yang menyebarkan agama sama seperti Sidarta Gautama, mahatmah Gandi, dan Muhammat.  Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi yaitu Yesus menurut Dan Bwron penulis Davinci code.  Menurut Dan Bwron bahwa Yesus itu menikah dengan Maria  Magdalena dan memiliki keturunan, bahkan Dan Bwron berkata bahwa Yesus itu hanya manusia biasa.  Dan Bwron bahkan berkata bahwa Yesus diakui sebagai Allah ketika konsili Nicea pada tahun 325M.  Dan Bwron menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengakui ke Allahan-Nya, ke-Allahan-Nya diputuskan ketika konsili Nicea yang dipimpin oleh Kaisar Kontantin.  Saksi Yehova berpendapat bahwa Yesus hanya manusia biasa dan bukan Allah.  Bahkan menurut mereka bahwa Yesus adalah mahkluk yang diciptakan.
     
    Ay.15, tetapi Yesus berkata, : "menurut kamu siapakah Aku ini?" Ternyata walaupun banyak pendapat orang tetang Yesus itu tidak penting, yang lebih penting menurut murid-murid-Nya secara pribadi itulah yang terpenting.  Walaupun kita banyak dengar pendapat tentang Yesus melalui buku-buku, melalui khotbah-khotbah, melalui seminar-seminar, melalui koran, melalui  radio, melalui KKR itu tidak terlalu berarti. Kita secara pribadi harus mengetahui siapakah Yesus itu?  Bukan pendapat orang yang penting tetapi pendapat kita tentang Yesus itu yang paling penting. Iman tidak tergantung oleh apa kata orang, pendapat orang tetapi bergantung pada pemahaman kita siapakah Yesus itu?  Orang Israel telah lihat Yesus lakukan mujizat, melakukan penyembuhan, lakukan pengusiran setan tetapi mereka tidak paham siapakah Yesus.  Orang yang liat Yesus langsung saja memiliki banyak pandangan tentang siapakah Yesus apalagi kita yang hidup zaman ini mungkin juga sama memiliki pandangan yang bermacam-macam tentang Yesus ada yang sesat, ada yang benar ada juga yang ngawur. Di Amerika yang ngaku negara Kristen dan banyak mengirim misionaris keseluruh dunia kini telah ngawur tentang siapa Yesus itu.  Bahkan para ahli-ahli teologi berkumpul dalam persatuan Yesus Sejarah untuk membahas tentang Yesus yang historis/sejarah yang pernah hidup yang dipimpin oleh Robert Frank, seorang ahli alkitab bertaraf internasional menyimpulkan bahwa perkataan-perkataan Yesus yang tercatat dalam alkitab hanya 18% saja yang benar.  Yang paling penting dari kesimpulan mereka adalah Yesus yang pernah hidup dalam sejarah berbeda dengan Yesus yang diimani oleh orang Kristen.  Yesus yang diimani oleh orang kristen bukan Yesus yang pernah hidup di Palestina tetapi hanya hasil rekayasa orang kristen abad pertama.  Siapakah Yesus itu sebenarnya?
       
    Ay.16, Simon Petrus berkata, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.  Ditengah-tengah kabar dan pendapat orang tentang Yesus, tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.  Kita akan membahas tentang arti kata Mesias dan Anak Allah, Mesias arti secara harafiah adalah Yang Diurapi dalam tiga jabatan imam, nabi dan raja.  Sebagai imam ia akan membuka jalan perdamian dengan Allah, sebagai nabi yang akan mengajarkan bangsa Israel jalan-jalan Tuhan dan sebagai raja yang memerintah serta menjadi raja atas Israel. Dalam Perjanjian Lama Mesias dinubuatkan akan hadir melalui garis keturunan Daud dari suku Yehuda. Dalam pandangan orang yahudi Mesias adalah seorang raja yang akan menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan dan kesesakan yang mereka alami.  Mesias adalah pribadi Yehova, Yahweh sendiri.  Karena dalam pemahaman tradisi yahudi Mesias identik dengan raja yang bertahtah dan penuh dengan kemuliaan tetapi tidak memhami dengan jalan penderitaan Ia memperoleh kemuliaan tersebut membuat orang yahudi menolak Yesus seorang anak tukang kayu yang biasa dan hanya punya 12 pengikut.  Karena tidak memahami  Perjanjian Lama dengan benar maka mereka sulit paham tentang pribadi Yesus yang adalah Mesias Israel.
         
    Yang kedua adalah Anak Allah, ada beberapa arti tentang Anak Allah.

    Pertama, Anak Allah berarti menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Anak menunjuk kepada kemanusiaan-Nya sedangkan Allah menunjukkan keillahian-Nya.  Jadi Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia (Filipi 2:5-7).  Jadi Yesus adalah manusia 100% dan Juga Allah 100%. Dua natur tetapi satu pribadi. Tidak tercampur tetapi juga tidak terpisah diantara kedua natur tersebut.  Ini adalah Kristologi yang agung bahwa Yesus adalah Allah sekaligus manusia.  Ia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati juga.  Jadi kita menolak pandangan ngonostik yang berpendapat bahwa Yesus itu tidak pernah hadir menjadi manusia, Yesus hanya banyangan saja. Ini harus kita tolak karena tidak sesuai dengan Alkitab. Kita juga menolak pandangan yang berkata bahwa Yesus hanya manusia biasa sama seperti kita. Sebab Yesus tidak lahir dari hasil perkawinan manusia, tetapi juga tidak lahir dari hasil perkawinan antara Allah dan manusia.  Tetapi Ia lahir atas karya Roh Kudus yang berdaulat. Yesus tidak berbuat dosa, tetapi Yesus mengampuni dosa. Yesus pernah berjalan diatas air yang menunjukkan bahwa Yesus memiliki keillahian.

    Kedua, Anak Allah berarti Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (kolose 1:15).  Jika kita berkata anak kunci kita tahu bahwa anak kunci tersebut mirip, sama dengan kunci yang asli. Pernyataan Anak Allah sama artinya bahwa Yesus itu serupa, mirip dengan Allah.  Allah itu roh dan tidak ada seorang pun yang pernah melihat bagaimana Allah itu.  Tetapi jika seseorang ingin melihat Allah yang tidak kelihatan maka pandanglah Yesus.  Disini istilah Anak Allah mengungkapkan misteri Kristologi tentang Allah yang transenden dan Allah yang imanen.  Allah itu roh tidak kelihatan dan berbeda secara karakter dan moral dengan manusia ini yang disebut transenden, tetapi Allah itu juga yang hadir dan menjadi sama dengan manusia turut merasakan apa yang dirasakan oleh menusia ini disebut imanen.  Agama islam menyembah Allah yang transenden sehingga ketika kita menyebut Yesus Allah mereka akan menolak karena tidak mungkin manusia menjadi Allah.  Tetapi mereka tidak mengenal istilah Allah yang imanen yang begitu dekat dan sama seperti manusia dalam pribadi Yesus. Yesus sama dengan Allah, kita menolak pandangan saksi Yehova yang berpendapat bahwa Yesus diciptakan dan tidak sama dengan Allah.  Yesus itu kekal, tidak berubah dan tidak diciptakan (Yoh 1:1-12). Memang benar ada pernyataan yang berbunyi dalam kolose 1:15, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, ayat ini dipakai oleh orang saksi Yehuwa untuk berargumentasi bahwa Yesus diciptakan.  Ayat ini banyak menimbulkan kebinggungan maka harus hati-hati menafsirkannya. Kata sulung dalam bahasa Yunani Prototokos, yang memang dapat diartikan sebagai, anak pertama dalam dalam urutan keluarga tetapi artinya dapat juga, Ia yang diutamakan bukan secara kronologi, jadi Ia yang sulung diutamakan karena Ia pencipta, Ia pencipta segala sesuatu.

    Ketiga, Anak Allah berarti Yesus Kristus memiliki Hubungan yang khusus, yang pribadi yang tidak dimiliki oleh siapapun juga.  Semua manusia telah memberontak kepada Allah dan telah memusuhi Allah.  Tetapi Yesus memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, menunjukan bahwa Ia bukan manusia berdosa dan dengan jalan tersebut Yesus dapat membukan jalan yang mendamaikan kita dengan Allah.
    Ay. 17, Yesus berkata tentang pengakuan Petrus, Yesus menyebut petrus berbahagia karena bukan manusia yang mengajar Petrus tetapi Bapa.  Ketika orang-orang memiliki pemahaman yang simpang siur tentang Yesus tetapi Petrus memiliki pemahaman yang benar, pemahaman yang dalam, pemahaman yang sempurna, yaitu pemahaman yang tidak dapat diajarkan oleh orang lain tetapi diajarkan oleh Allah Bapa sendiri.  Banyak orang belajar, banyak orang yang mendengarkan khotbah, banyak orang yang telah menyaksikan mujizat, kesembuhan dari Yesus tetapi memiliki pemahaman yang lain tentang Yesus.  Tetapi Petrus memiliki pemahaman yang falid, yang benar, yang sejati karena ia menerimanya atas pernyataan Allah Bapa.
    Jemaat GGP Elim pernah kesaksian kepada saya bahwa dahulu semua anak dan istrinya sudah jadi kristen tetapi ia belum.  Ketika anak istrinya pergi gereja ia bakar baju anak istrinya. Ketika anak istrinya berdoa saat makan ia ambil ikan dan lauk mereka dan lempar kepada anjing, ketika sebelah rumahnya sedang kebaktian maka ia selalu membuat keributan, memukul-mukul kaleng, panci dan melempari rumah ibadah.  Ia tidak percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi sekarang ia menjadi kristen bahkan menghibahkan tanah sekitar 200meter untuk pembangunan gereja.  Kini ia mengakui Yesus kristus adalah Tuhan dan Allah. Siapa yang bisa menyakinkan orang seperti ini kalau bukan Tuhan yang mengajarkannya.  Sebab ada istilah didalam kekristenan tentang hal ini, yaitu kesaksian batiniah dari Roh Kudus.  Jadi Roh Kudus yang mengajarkan manusia tentang kebenaran, dosa dan penghakiman. Tentang kebenaran yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang hidup. Puji Tuhan.

    Ay.18, Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.
    Kalimat ini harus secara bijaksana, sebab karena kalimat ini menjadi dasar otoritas kepausan katolik Roma untuk menetukan apa yang benar dan salah karena katolik adalah penganti Petrus batu karang itu. Yang Yesus sebut itu batu karang siapa? Ada dua penafsiran pertama, yang Yesus sebut batu karang adalah pribadi Petrus. Sebab dahulu namanya bukan Petrus tetapi simon. Setelah ucapan itu maka ia diganti nama menjadi Petrus(batu). Penafsiran kedua, yang Yesus sebut batu karang adalah pengakuaan Petrus.  Pengakuan Petrus itu adalah Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.  Maka saya pikir yang lebih tepat adalah yang kedua. Sebab tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab kita menemukan bahwa Petrus disebut batu karang. Tetapi dalam Kitab I korintus10:4 disebut bahwa Kristus adalah batu karang dan bukan Petrus. Dan tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang bisa dijadikan ajuan bahwa Petrus adalah batu karang.  Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Petrus(Petros) dan batu karang (Petra).

    Jadi gereja yang sejati adalah gereja yang dibangun diatas dasar pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Gereja yang sejati bukan gereja yang dibangun atas dasar filsafat, pengetahuan, kekeluargaan, otoritas paus sekalipun tidak dapat membangun gereja yang sejati.  Hanya mereka yang mengaku Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.  Diatas apa gereja dibangun? Atas dasar Kristus.  Ini menunjukkan keuniversalan gereja. Gereja yang sejati bukan GSJA, GKI, REFORM, PROTESTAN, BUKAN GGP, BUKAN BAPTIS tetapi  mereka yang mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.  Orang yang menyaksikan kesembuhan dari Tuhan Yesus belum tentu mengenal Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah. Kita datang kegereja, berbakti akan sangat sia-sia jika tidak berdasarkan dasar yang sejati.  Saya pikir kurang tepat jika kita berkata bahwa gereja berdiri pada hari pentakosta.  Sebab ayat ini jelas bahwa gereja berdiri ketika nama Yesus diakui sebagai Mesias/Kristus, anak Allah yang hidup. Saya memiliki pemahaman lain tentang hari pentakosta yakni pemberian kuasa(Kis.1:8) kepada gereja untuk menjalankan fungsi dan tugasnya dalam dunia. Ada tiga fungsi gereja dalam dunia, Koinonia(persekutuan), Diakonia(pelayanan), Marturia(penginjilan).

    Dan Alam maut tidak dapat menguasainya, sepanjang sejarah gereja telah terbukti bahwa gereja yang sejati tidak pernah binasa dan tidak dapat dihentikan. Semakin dijepit akan semakin bertahbah, semakin ditindas akan semakin kuat dan berkembang. Tidak ada yang dapat membinasakan gereja yang sejati.  Walaupun Voltaire pernah berkata 100 tahun dari sekarang kekristenan tidak akan ada lagi. Tetapi sampai hari ini gereja yang sejati masih ada dan berkarya ditengah-tengah dunia ini. Nero siksa orang kristen, bakar hidup-hidup jadi lilin pada malam hari, lemparkan kepada singa, dipenggal, dipanjung..tetapi gereja yang mengaku Yesus adalah mesias anak Allah yang hidup tidak pernah binasa dan alam maut/ hades sendiri tidak dapat menguasainya.  Kematian adalah hal yang paling ditakutkan semua orang, dan yang paling dihindari oleh orang.  Saya pernah ikut penguburan orang mati, yang mati ini anak muda dan anak satu-satunya dari keluarga ini.  Pada saat petinya diturunkan tiba-tiba ibunya menjerit, ungga sudah sambil angkat roknya dia loncat masuk kuburan...dohot mau mate(ikutlah aku mati).

    Kematian tidak menjadi yang kekejaman bagi gereja yang sejati, bahkah orang-orang dahulu yang mati martir dengan bernyanyi dan memuji Tuhan sebelum mereka dibunuh. Karena mereka tahu bahwa mereka memiliki hidup yang kekal.  Contoh: polycarpus murid rasul Yohanes seorang uskup di smirna ditangkap dan dihadapkan kepada kaisar.  Lalu karena melihat ini orang sangat tua ketika itu polycarpus berusia 80 tahun.  Ia melakukan penawaran, agar polycarpus menyangkal Yesus dan menyembah kaisar sebagai Tuhan.  Lalu polycarpus berkata bahwa ia tidak akan menyangkal Yesus.  Untuk kedua kalinya kaisar meminta agar polycarpus pertimbangkan masa tuanya, jika ia menyangkal Yesus dan menyembah kaisar ia akan dibebaskan, jawab polycarpus bahwa 70 puluh tahun ia melayani Yesus tidak mungkin Ia menyangkal-Nya karena tidak pernah sedikitpun Yesus mengecewakannya.  Marahlah kaisar dan berkata jika kau tidak menyangkal Yesus kau akan kulemparkan kedalam api. Polycarpus menjawab: silahkan lakukan apa yang kau mau, api yang kau buat hanya mampu bakar aku 2jam tetapi ingat ada api yang tidak terpadamkan yang akan membakar kalian semua yang tidak percaya kepada Yesus.  Cepatlah lakukan apa yang kalian inginkan sebab aku tidak akan menyangkal Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Lalu polycarpus mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Puji Tuhan

    Ay.19. kepadamu akan  Kuberikan kunci kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia akan terlepas disurga dan apa yang kau lepaskan didunia akan terlepas di sorga. Ayat ini juga rumit dan sulit diterjemahkan. Pertanyaan yang kita ajukan dengan ayat ini adalah apakah surga memerlukan kunci untuk membukanya? Buat apa Yesus kasih kita kunci untuk buka surga sementara kita masih hidup dalam dunia ini? Latarbelakang ayat ini ditemukan dalam istilah kerajaan. Sewaktu seorang raja tinggal dalam sebuah istana yang besar maka ia akan mempercayakan semua pengaturan dalam kerajaan tersebut. Mulai dari makanan-minuman, pakaian, anak-anak, dan seluruh kegiatan dalam istana tersebut.  Jadi ia dipercayakan seluruh hal dalam istana tersebut bahkan memengang kunci setiap hal dalam istana.  Jadi dengan kata lain pegawai ini dipercayakan otoritas yang besar dalam istana tersebut.  Contoh untuk kasus ini adalah Yusuf pada saat bekerja dirumah Potifar. Mbah-mbah Rijan juru kunci gunung Merapi.  Jadi mbah-mabah Rijan orang yang berkuasa di Gunung Merapi yang mewakili kraton Yogjakarta, Sultan Hamengkubono X. Jadi jika orang ingin melakukan sesuatu maka orang terlebih dahulu bertanya kepada Mbah-mabah rijan dan ia menentukan mana yang boleh-mana yang tidak.

    Saya pikir ini adalah contoh yang paling dapat kita terima saat ini, saya tidak tahu jika ada penafsiran yang lebih baik dari ini.  Jadi inti dari teks ini adalah diberikan kuasa untuk mengambil keputusan dan menjadi wakil kerajaan Allah dalam dunia ini. Baik dalam doktrin/ajaran yang sehat maupun dalam tingkah laku etis.  Nah...sekarang para rasul dah mati jadi saya boleh dong mengubah doktrin yang ada karna saya juga gereja yang mengaku Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup?  Maka jawaban saya adalah semua doktrin dan perilaku etis telah tercatat didalam Alkitab dan tidak bisa ditambah dan dikurang.

    Rabu, 01 Desember 2010

    Dewasa Rohani Tidak Harus Tua

    Dewasa atau kedewasaan adalah topik yang luas. oleh karenanya pada tulisan ini, saya mencoba membahas dari sisi kedewasaan ditinjau dari perspefktif Alkitab, khususnya tentang korelasi antara kedewasaan rohani seseorang dengan kedewasaan berfikirnya.

    Sebelum membahas pokok di atas, penulis mencoba mencantumkan  tulisan dari Paulpa di blognya (http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2008/12/16/pembelajaran-orang-dewasa-ciri-ciri/)yang dirangkumkan dari Downs, Perry G., “Adult: An Introduction” dalam buku Christian education: foundations for the future
      Tidak ada garis pembatas yang jelas dalam masyarakat modern yang memberi indikasi kapan seorang pribadi menjadi orang dewasa. Pada beberapa masyarakat primitif, pembatas tersebut bisa berupa ritual inisiasi yang mengantar seseorang pada
      masa kedewasaan. Biasanya masa dewasa dimulai pada awal duapuluhan (yang ditandai dengan beberapa peristiwa penanda) dan berlanjut sampai akhir hidup.

      Masa dewasa adalah masa yang mengalami perubahan dan melewati tahap-tahap  dan pola perkembangan juga dan tidaklah statis seperti yang disangka oleh banyak orang selama ini. Pola yang dapat diprediksi dalam kehidupan orang dewasa secara struktur sosial:
      • Duapuluhan – memiliki ciri keyakinan yang besar
      • Tigapuluhan – sering memiliki keragu-raguan, dan mempertanyakan banyak keputusan hidup mereka
      • Empat puluhan – memiliki ciri akan rasa ketergesaan yang dalam
      • Lima puluhan – memiliki ciri penerimaan diri
      • Setelah enam puluhan – potensi hikmat dan kekudusan dinyatakan dalam kedalaman yang lebih besar
      menuliskan "karakteristik orang dewasa" antara lain:
      • Konsep diri orang dewasa berubah, dari seseorang yang tergantung menjadi mengatur diri sendiri
      • Orang dewasa memiliki sejumlah pengalaman dan pemahaman yang semakin banyak, yang berfungsi sebagai sumber daya pembelajaran yang kaya
      • Kebutuhan untuk belajar akan lebih banyak berorientasi pada tugas perkembangan dari peran sosial
      • Perspektif orang dewasa dalam menggunakan pengetahuan berubah dari penerapan yang tertunda menjadi penerapan segera
      Bagaimanakah Alkitab mendefinisikan tingkat kedewasaan seseorang? Penulis mencoba meneliti beberapa catatan Alkitab tentang pokok ini. Dari penyelidikan tersebut, penulis menemukan :

      1. Kedewasaan seseorang harusnya selaras dengan tingkat usianya 
      1Samuel 2:26  Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

      Lukas 1:80  Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.
      Luk 2:52  Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. 
      2. Kualitas kedewasaan seseorang berbanding lurus dengan kualitas pengenalannya kepada Tuhan.
      2Petrus 3:17-18: "Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya."

      Orang yang memasuki tahap kedewasaan rohani memiliki ciri-ciri :
      • Dapat memutuskan perkara yang lebih utama dalam hidupnya.
      Ibrani 11: 24-27 : 24.  Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, 25.  karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. 26.  Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. 27.  Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.
      • Dapat memahami perintah dan larangan Tuhan.
      Nehemia 10:28  Dan orang-orang yang lain, yakni: para imam dan orang-orang Lewi, para penunggu pintu gerbang, para penyanyi, para budak di bait Allah dan segala orang yang memisahkan diri dari penduduk negeri untuk patuh kepada hukum Allah, serta isteri mereka, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, begitu juga semua orang yang cukup dewasa untuk mengerti. 
      • Dapat mempertanggung jawabkan pengalaman rohaninya dengan Tuhan di hadapan banyak orang.
      Yohanes 9:21  tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri."
      • Dapat Membedakan mana yang baik dan yang berkenan kepada TUHAN
      1 Korintus 14: 20  Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!
      Ibrani  5:11 - 14 :  "11.  Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. 12.  Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. 13.  Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. 14. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.
      • Mengutamakan kepentingan Allah dalam mewujudkan rencana penyelamatan umat manusia
      1 Korintus 3: 1-10: " 1. Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2.  Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3.  Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4.  Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? 5.  Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6.  Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7.  Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 8.  Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9.  Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. 10.  Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya."


      Rabu, 29 September 2010

      Pastikan Anda Mengenal Allah dan Allah mengenalmu!


      Matius 7: 15-23
       "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"  
      Pada zaman ini segelintir orang seperti menganggap rendah perihal hubungannya dengan sang penciptanya. Mereka berpikir bahwa hubungan dengan sang pencipta ditentukan oleh agama yang dipeluknya.  Rahmad Pujiansyah menulis satu artikel dengan judul "Apakah Benar Tuhan Itu Ada?" yang dimuat di situs  http://agama.kompasiana.com/2010/09/28/apakah-benar-tuhan-itu-ada/ . Dalam Artikel itu, ia menulis demikian :

      "Alam semesta yang diciptakan oleh Allah ada permulaan dan Ada pula akhirnya, masa permulaan ialah waktu Allah menciptakan sedangkan masa akhirnya ialah pada waktu hari kiamat, seluruh jagat raya akan mengalami kehancuran, begitu juga kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lainnya semua pasti menjalani adanya kematian, hanya Allah saja hidup kekal abadi, karena segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah akan mengalami kerusakan dan kebinasaan.
      Allah mengutus para nabi dan rasulNya bertujuan untuk menyampaikan firman-firman Allah kepada seluruh umat manusia, bahwasanya setelah kehidupan di dunia ini manusia dan makhluk lainnya akan hidup kembali di akhirat nanti, disanalah pengadilan ditetapkan oleh Allah sesuai dengan amal dan perbuatan semasa hidup manusia di dunia, bagi mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah mendapat tempat di Sorga, sedangkan bagi mereka yang mengabaikan perintah Allah ditempatkan di Neraka."
      Mungkin banyak orang setuju dengan pendapat ini.


      Jumat, 03 September 2010

      Realizing the importance of Why You Should Serve the Lord


      Acts 26: 12-23

      In the book "The mission of the Crisis" issued by the Torch Mitra Indonesia, Jakarta 2003, p. 40-44, Good Surjantoro wrote in an article titled "Reasons to Serve God":

      "There are various factors behind why a person who serves the Lord. But the most important factor underlying the true ministry is God's call. Factor God's call will make a person live to serve, not serve for life. Since the calls also, someone with real experience will grace of God in her life and then will make the love of God and neighbor as the basis for life and ministry. People who have the motivation of love for God and neighbor, which will be more resilient `` in the service. Paul is one example of someone who has God's call clear in his life. That's what makes life so extraordinary and his ministry in the hands of God and a blessing to many people.

      If God calls, He knows who summoned him and for what. If God wants us to do something, He knows that we are able to do so by his grace. Our God is great God and He can do all things. He who set the universe, He who owns the earth and everything in it, the sea and all that dwell therein. We are the ones who are often small-minded and stunted, making as though God could not do anything about it. Pettiness and the smallness of faith that becomes a barrier for us so that we can not see the greatness of God over all His creation, including well over our lives. "

      Proposition: We have chosen of God to serve Him.
      Sentence Question: How do we are chosen of God to serve Him?
      Transitional Sentence: The facts how do we are chosen of God to serve Him?

      I. Realize, Assessment Services it is the Lord (v. 16).

      In this passage, especially verse. 14-15 Paul explained to King Agrippa how the Lord called him: "14. We all fell to the ground and I heard a voice saying to me in Hebrew:" Saul, Saul, why do you persecute me? "It's hard for you to kick to the pole stimuli. 15. But I answered: Who art thou, Lord? He said, `I am Jesus, whom you are persecuting." Notice how North Paul declares how God chose. Lord chose not because he can meet the standards of God's truth. Consider the record of the time such election. At that time, Paul was on his way to Damsyk for the purpose of persecuting the congregation of the LORD is there. That's where the Lord caught it and set it to be a "servant of Him."

      Reviewed from time, and this selection process, is surely one thing that kontropersial. Is not the LORD, who is personally selecting the omniscient, Glorified, the Most Just, and All-merciful? His existence as a person of the Most Just, requires the LORD punish Paul. But in this passage Paul explains that in his encounter with the Lord on the road to Damsyk, the Lord chose, and set them to be His servants and witnesses. This event was explained to us that Paul was chosen not because of who Paul is. Not because he meets the criteria of a servant of God, but God chose and set them to be His servants is because HE himself who took the initiative to do so. A similar thing happened with us in our time. Therefore, value choices and the determination of the LORD, who has menetapkanmu become his servants.

      Illustration: Jim Caviezel is a regular actor with small roles. And who starred in films also not large. Role of the best I have ever played is a war movie with the title "THE THIN RED LINE '. There too he is only one role among the major actors who played in the film's colossal. In The Thin Red Line, Jim served as a soldier who sacrificed for the sake of helping his friends who were wounded and encircled the enemy, he ran the enemy in the other direction even though he knew he would die, and finally surrounded and they killed him.

      Kharisma kindness, friendliness, and this would attract attention berkorbannya Mel Gibson, who was looking for the right actor to portray the concept of film that had long kept, waiting for the right person to memerankannya. Finally they held a meeting with Jim to discuss the bid for the role. Mel and then explains at length about the film to be made. Film about Jesus that is different from other movie ever made about him. Mel also said that it would be very difficult in this film portrays, one of which Jim had to learn the language and dialect of Aramaic, the language used in those days. And Mel then glared Jim, later asserted that the biggest risk may be encountered. He says if Jim plays this film will probably be the end of his career as an actor in Hollywood.

      In silence waiting for Jim's decision whether to be played in the movie, Mel Gibson, Jim asked: 'Mel did you choose me because my name was too similar to the initials of Jesus Christ (Jim Caviezel), and I was now 33 years old, together with the age of Jesus Christ when He was crucified '? Mel shook her head half-stunned, shocked, he was a little scary. He did not know about it, nor escape his notice. He chose Jim purely because of his role in 'The Thin Red Line'. Jim later said: "Well Mel, I think it's not a coincidence, this is my call sign, everyone must take up his cross. When he refused to carry it then he would break the cross on top. I bear the risk, let's make this movie! "

      Implementation: Awareness of the case and to determine how the Lord chose to be His servants enable us to do that ministry. Whatever the risks, did not become a barrier that means to keep doing it until God's purpose through these services materialize.

      II. Know that service can not be separated from the testimony (v. 16).
      Christian ministry and kesakasian is a unity that can not be separated. In other words, so if we refer to as the housing ministry, the testimony is the content. Think like a single container is not used, then the container remained one container filled with dust. Similarly, the content of some things, or whatever it is. Without a good place to contain it, it will be scattered everywhere, even be broken up into piles of trash discarded.

      Rev. Nathanael Channing, in his writings on the theme "Basic Instinct 1 - The Nature of Service" page one, quoting Luther as saying "Here I stand I can not do anything else, God help me". Nathanael asserted: "Services are:

      "Response to the grace of God which has saved mankind in Jesus Christ, to surrender themselves as servants of God which is realized through the offering of the holy and righteous life, dedicated himself in bearing the cross of Christ to carry out the vision and mission of God in saving mankind"

      Paul mentions the Lord Jesus called her goal is for him to be "servants and witnesses." Acts 26: 16. reads: "But now, get up and stand up. I've appeared to you to assign you a servant and witness of all things which you have seen from me and about what will I show to you later."

      This passage teaches how close relationship between the ministry and witness. Services must be sourced from what is Paul seen from the Lord. This passage also teaches that the nature of the revelation of the Lord to show it is not something that character only when Paul was arrested a servant of his Lord. But the Lord will still show it to Paul. Relation to the context of the present is let every servant of the Lord based his ministry to God's revelation. Therefore, every servant of the LORD must have an intimate relationship with the owner of that ministry. In the Acts of the Apostles 26: 17-18, the apostle Paul tells of God's purpose to set a servant and witness it this way: "I will alienate you from this nation and from other nations. And I'm sending you to them, to open eyes them, so they turned away from the power of Satan to God, to them by their faith in me getting a part in what was determined for those who are sanctified. "

      Arduous task instead? But we should imitate Paul. Even though he knew the risks of the task, he said in verse 19: "Therefore, O king Agrippa, the vision of heaven that I never disobeyed" In the next paragraph is clear to us what caused that experienced by Paul. He told his obedience evidence in serving the Lord. Paul's obedience to the orders of the Lord in faith to see the new life-threatening risk. Paul says : "But first I preach to the Jews in Damascus, in Jerusalem and in all Judea, and also to the Gentiles, that they should repent and turn to God and doing jobs that match repentance. That's why the Jews seized me in the temple, and tried to kill me "(Acts 26: 20-21).

      Here the obvious to us how hard it is to bear the risk. But we see that he should experience it once did, he kept it running. The Bible describes people who live in obedience to the commandment of the LORD. They are willing to pay the price for an observance, like Daniel, Shadrach, Meshach and Abednego. But on the other hand, the Bible also speaks of the disobedience, and consequently, like Saul, Jonah, and many of the kings of Israel. Need we ask why Paul remained faithful, even if he had to have the risk until it almost killed?

      Paul's obedience to determine how large the number of people aware of the existence of sin. When a person is aware of the existence of sin, when it began to open his spiritual eyes. Thus he realized that he need the the Savior. Paul's obedience to determine how large the number of people apart from being taken power of the devil. This verse explains the secret of experiencing spiritual growth that leads people to the power of the Lord Jesus who memerdekakannya perfectly.

      Reinhard Bonke said "Let me tell you a little secret: God does not use special talented people. He uses ordinary people like you and me to touch the world with his healing power. What makes the service a growing Reinhard Bonke? Because he witnessed in his ministry of Jesus Christ as Lord and Savior.

      Illustration: The filming of The Passion Of Christ, many challenges and difficulties that should naturally Jim Caviezel. Sometimes he could not afford to pass it. instance when he had to carry the cross and weighed ukuranya identical with the cross of Jesus. When wood is placed on his shoulders, he was surprised how hard the wood. when timber was laid on his shoulder, his shoulder was not strong to bear the heavy burden of the joints were so loose. As a result he groaned endure unspeakable pain. he even had time to issue a harsh word for lack of response of the other crews saw what they experienced.




      In another session, when he had to portray Jesus flogged,, his flesh torn because the affected native sharpness of the whip on his skin. Jim react to it in the dependences of the Lord in his prayers. Jim in his testimony says: Finally only one I can do, as Jesus did is a lot more praying. Pleading instruction to do all this. Because I was playing She's somebody who's so big. My past is not a deep relationship with Him. I was born to a devout Catholic family, good habits in the family had continued to follow and be a good foundation in me. And now I've been in my top role. Yes, Lord, Thou who has planned it all, and brought up here. That distract you from a career in basketball, leading me to be an actor, and made me arrive at this point. Because thou hast chosen, then whatever happens, happens according to Your will. Any way, after going through the process for making a very difficult movie, where Jim lives sometimes be at stake. And the Lord visit Jim and all the crew who took part in making the film. Even the Roman soldiers cast is a Muslim after scene, he was crying and accept Jesus as his Lord. The scene was so touching. That was incredible. Though initially they came only because to call it a profession and occupation, for the sake of money. But the experiences in that movie changed us all, the experience will not be forgotten




      Application: Lord has set you and I become his servant, with the aim that many souls to know Jesus as their personal Lord and Savior. God has put us on the right ministry positions. There are placed in schools, there is the Lord placed in the workplace. Come Worship the Lord in dependence to the DIA who have entrusted it to our service.


      III. Surely the Lord mold you and me according to His will (v. 17-18).




      England midfielder Frank Lampard believes his team can win the 2010 World Cup this time. he said, the Three Lions have the most qualified team of quality and equitable. Only hope to be a champion could be a nightmare if they were forced to penalties. England have always fared poorly when forced to compete this kick finalty.




      Since the 1990 World Cup, England knocked out of five tournaments (European Cup and World Cup) on penalties. Each lost two times from Portugal, and Germany, as well as all of Argentina. Because of a curse that, though sure squad have huge potential to win the World Cup a second time, Lampard asked his colleagues to erase bad memories about the first penalty shootout. "Admittedly, penalties as a ghost scary for us. And, this is not concerned about the technical. We all already know what to do when executing penalties. Actually it is all about mental, and may involve changing the curse," he was quoted from The Sun, yesterday. He later complained that penalties somehow like an inescapable curse. He was frank, if the time comes there must be penalties, and mentally the players have not 'worked' it's not impossible later the players will actually repel an interpreter to be executed. "Regardless of any good as we play all 120 minutes. No matter how tough we are fighting any kind. But as penalties go, we would said 'Oh, we must do this again'," he said as he swore. Because the 'curse' that has been mapped in his mind, he continued, it was difficult to avoid, and precisely so additional mental load. "It became a kind of disease that must be disposed of in the mind," he added.




      Lampard then refer to the German team, known champion in matters of penalty kicks. "That is why Germany is very good at penalties. They have a good history on penalties. So they are so confident. While we are shaded by a curse," he said. Exercise of Special Affairs penalties was apparently so serious attention of England coach, Fabio Capello. The Italian coach was promised to pursue all means to his team really ready to face 'hell' was high five-round knockout tosan later. "We always do special exercises every workout penalties. But, of course the situation is very different. Very easily scored from the penalty spot during practice because the pressure is very different from the actual game," said Capello was quoted from Mirrorfootball.com (quoted from http:/ / www.tribun-timur.com/read/artikel/101691/Latihan-Khusus-Adu-Penalti).

      Consider how serious football coaches face World Cup some time ago. Service is one contest that requires expertise tinggi.




      Dr. James D. Kennedy, author of Evangelism Explotion special training in how to conduct effective menginjilis to three friends in Florida. Dr. Kennedy makes an analogy about the difficulty melayankan gospel is like flying an airplane. The hardest thing in flying is to determine the precise moment when the peling for takeoff, and when to land it back.

      "A survey done by Christianity Today demonstrated EE That is today the most widely Used for training tool for evangelism Fathers and Laity. EE not only empowers trainees to gain confidence in presenting the Gospel, it enables Them changed from trainers of other soul-winners, Thus setting entire Churches on fire for evangelistic outreach to friends and Neighbours ". (Dr. James Kennedy, Ph.. D)

      "James Kennedy has recaptured the biblical concept That the church's primary task is Every-member evangelism. 'The Church having come to Christ, is to go for Christ." (Dr. Billy Graham). quoted from http://www.pemudakristen.com/news/ee.php.

      Before the Lord really put Paul as His servants and witnesses, the apostle Paul in Acts 26: 17, said "I will alienate you from this nation and from other nations. And I'm sending you to them," Case the hardest thing in human life is when he was exiled from his group. Loneliness is the greatest enemy of mankind. But if humans can overcome her loneliness, she would be able to bear the burden of his life. According to Les Carter, "Loneliness is a feeling of separation, isolation, or distance in human relations means. Loneliness emotional pain, feeling empty, and longing to feel understood and accepted by someone." (Quoted from Tim Hansel, "Through the wilderness of Loneliness" (Elgin, Ill.: David C. Cook, 1991), 59-60.) That was published in http://bible.org/seriespage/chapter-17-lessons-loneliness . But we saw how the Lord used to litigants with Paul's lonely.

      A similar thing happened to Bruce E. Olson. In his book titled "Brucho for this cross, I'll kill you" tells how his experience with the Lord. He is a young man aged 19 years when he had to leave home and go to the mountains of South America. He knew the Lord would call him. He began to feel the call when he was aged 14 years. When Bruce realized the Lord calls him, he began to question who is his Lord. He tried to find the answer to that question, but no one can give a satisfactory answer to his heart.

      As a follower of the small Lutheran, Bruce knew God as the Lord is hard and must prosecute human acts according to his deeds. Bruce also know God other than the school. All this made him confused.

      In search of answers tersebutia read the book of John and find a different LORD. He found the Lord who has compassion on him and to the souls of the lost. God wills to serve in South America, which is among the Indian tribes Motilone. Then God withdrew him from his family environment, far from modern communication facilities. Almost killed, and nearly died from liver disease is not treated, but was released God's miraculous way.

      In accordance with the time of the LORD, Brucho successfully made contact with the tribe Motilone. Through Brucho service that always depends on the Lord, people Motilone known as cannibals, and malignant submit to the gospel of Christ. Motilone impact people transformed the Lord. This becomes one of evidence that also affects indian tribes around him to accept Christ as Lord and Savior.

      Implementation: Creation of the Lord to every one of us is different from one another. But in the process of forming it, everyone will feel that uncomfortable. But everyone who made it through the process of formation that will definitely see results, where the GOD Participate working. And in the end God's purpose in his election to us will be fulfilled as a maid.

      Written by: Manto Manurung, S.Th.