Minggu, 05 Agustus 2012

Penginjilan, Salah Satu Tugas Gereja Di Antara Tugas-tugasnya Yang Lain


Sejarah gereja memang mencatat bahwa gereja ada karena penginjilan. Ini dapat dibuktikan dari catatan-catatan yang terdapat dalam kitab Perjanjian Baru khususnya kitab Kisah Para Rasul. Berikut ini bukti-bukti penginjilan yang dicatat oleh kitab Kisah Para Rasul:
1.      Dalam dunia Perjanjian Baru, dicatat bahwa  sejarah kelahiran gereja dimulai setelah peristiwa pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada hari Pentakosta. Setelah peristiwa tersebut Petrus menyerukan berita Injil kepada orang-orang Yahudi yang sedang berkumpul di Yerusalem sehubungan dengan hari raya Pentakosta. Penginjilan pertama ini menghasilkan sebanyak 3000 orang percaya dan memberi diri mereka dibaptiskan sesuai dengan perintah Tuhan Yesus. (Kisah Para Rasul  2: 41).
2.      Petrus dan Yohanes berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal bait Allah serta orang-orang Saduki. Dari antara mereka yang mendengarkan ajaran itu menjadi percaya. Anggota gereja bertambah menjadi
kira-kira 5000 orang laki-laki, belum termasuk anak-anak dan wanita (Kis 4: 1-4).
3.      Pada waktu yang lain Tuhan mengutus Petrus untuk penginjilan kepada orang bukan Yahudi yaitu kepada Kornelius dan keluarganya. Penginjilan kepada keluarga non Yahudi ini memenghasilkan orang percaya baru yaitu Kornelius dan
seluruh isi rumahnya. (Kis 11).
4.      Rasul Paulus serta teman-temannya penginjilan ke daerah-daerah di luar Yerusalem. Alkitab mencatat beberapa nama dari jemaat di luar Yerusalem hasil penginjilan tersebut, antara lain: jemaat di Ikonium Listra (Kis 13: 43, 48); jemaat di Antiokia (Kis 14:21), jemaat di Filipi (Kis 16:13,14), jemaat di Tesalonika yang terdiri dari orang-orang Yunani (Kis 17: 1-4).
Sejarah gereja sesudah dunia Perjanjian Baru juga memberikan bukti-bukti penting bagaimana peranan penginjilan dalam kehidupan gereja Tuhan sepanjang masa. Khususnya di Indonesia, gereja Tuhan di negeri ini dapat berdiri karena penginjilan yang dilakukan oleh para penginjil dari Eropa yang bernaung di Nederlands Zendeling Genootscap(N.Z.G.), antara lain di Maluku oleh Yosef Kam.,[1] di tanah Batak yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada tahun 1862 oleh Ingwer Ludwig Nomensen.[2] Dengan demikian dapat disimpulkan:
1.
      Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial gereja mempunyai peranan penting dalam kehidupan gereja. Gereja Tuhan di seluruh belahan bumi ini mulai dari perkotaan sampai dengan ke pedalaman lahir karena penginjilan.
2.      Banyak jiwa menjadi percaya kepada Yesus Kristus serta menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat pribadinya adalah karena penginjilan.
Menjadi pertanyaan apakah gereja dapat berfungsi jikalau ia hanya melakukan


tugas penginjilan saja, dan tidak melaksanakan tugas-tugas esensialnya yang lain? Selain penginjilan, apakah tugas-tugas esensial gereja yang lainnya? Menzies dan Horton  mengemukakan bahwa gereja mempunyai tiga tugas rangkap, yaitu: memberitakan Injil ke seluruh dunia,[3]melayani Allah,[4] membangun sekumpulan orang kudus (orang-orang percaya yang berdedikasi), mengasuh mereka yang percaya supaya mereka menjadi serupa dengan citra Kristus.[5]Stott mengemukakan tugas pokok gereja ada tiga, yaitu: melayani (διαχονία) [6](pelayanan sosial), kesaksian Kristen (μαρτυρέω),[7]bersekutu (κοινωνία).[8]  
Ketiga tugas rangkap gereja tersebut tercermin dalam kehidupan jemaat mula-mula seperti yang dinyatakan oleh kitab Kisah Para Rasul. Secara kronologis kitab ini mencatat kehidupan gereja mula-mula itu sebagai berikut:
1.     Setelah peristiwa pencurahan Roh Kudus yaitu pada hari Pentakosta (Kis 2:1-4), diberitakan bahwa di sana sedang berkumpul juga orang-orang Yahudi yang datang dari daerah perantauan mereka (dari Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Firigia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, dan Roma) untuk merayakan hari Pentakosta (Kis 2:5-12). Pada awalnya orang-orang tersebut menyebutkan  bahwa murid-murid tersebut sedang mabuk anggur, mendengar tanggapan orang-orang tersebut, lalu Petrus berdiri untuk menyerukan berita keselamatan di dalam Yesus Kristus. Mendengar berita tersebut, bertobatlah kira-kira tiga ribu jiwa jumlahnya (Kis 2:14-41).
2.    Orang-orang yang bertobat tersebut menjadi percaya dengan berita yang
disampaikan oleh Petrus tersebut lalu memberi diri mereka dibaptis. Kemudian mereka berkumpul dan bersekutu serta dengan tekun mendengarkan pengajaran para rasul (Kis 2: 42-47). Dalam kehidupan jemaat yang mula-mula ini suasana koinoniadan diakonia di antara jemaat masih sangat baik. Lukas mencatat orang-orang percaya bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (pemuridan), dalam persekutuan (koinonia), dan selalu berkumpul untuk memecahkan roti (diakonia).
3.     Dalam Kisah Para Rasul 6: 1 dicatat tugas koinonia dan diakonia dalam jemaat kurang diperhatikan. Keadaan ini membuat kehidupan gereja mula-mula yang tadinya sangat harmonis menjadi sedikit bermasalah. Kurang berfungsinya salah satu tugas gereja pada waktu itu menyebabkan tugas-tugas yang lain juga menjadi terganggu.
Contoh kasus yang dicatat oleh Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul menjelaskan  keadaan gereja pada waktu itu, dan juga sering dialami oleh gereja masa kini. Berdasarkan bukti tersebut, pada waktu ketiga tugasnya dijalankan dengan seimbang, kehidupan gereja tetap harmonis. Keharmonisan itu memberi dua dampak, yaitu:
1.      Orang-orang yang belum percaya di sekitar gereja menyukai kehidupan mereka,
2.      Banyak dari orang-orang yang belum percaya itu menjadi percaya dan mengikut jalan keselamatan (disebut juga sebagai ajaran jalan Tuhan).
Keadaan kehidupan gereja yang harmonis tersebut tidak dapat dipertahankan untuk waktu yang lama. Lukas mencatat bahwa pada waktu gereja mulai tidak menjaga keseimbangan di antara tugas- tugasnya, gereja masuk ke dalam kehidupan yang berbeda dengan keadaan sebelumnya (Luk 6: 1). Lukas mencatat, gereja kurang memperhatikan tugas diakonia. Akibatnya terjadilah perselisihan di antara jemaat Yahudi berbahasa Yunani dan jemaat Yahudi berbahasa Ibrani. Perhatikanlah gambar di bawah ini!


Gambar 1.
Diagram Tiga Tugas Gereja

Pada gambar 1 di atas, penulis menganalogikan tugas penginjilan, koinonia, dan diakonia sebagai dinding pagar yang melindungi gereja lokal. Apabila salah satu tugasnya ditiadakan, gereja kehilangan salah satu dinding pagar perlindungannya. Dengan demikian, gereja mudah diserang oleh berbagai masalah, baik dari luar gereja, dan juga tidak tertutup kemungkinan dari dalam gereja sendiri. Tanpa kesatuan dan keseimbangan di antara ketiga sisi pagar tersebut, kehidupan gereja menjadi kurang harmonis. Akibatnya, gereja kurang efektif untuk menjalankan fungsinya di tengah dunia ini.


[1] H. Berkhof & L. H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1990),      p. 314.
[2]Ibid, p. 316.
[3] William W. Menzies & Stanlesy M. Horton, Doktrin Alkitab, (Malang: Gandum Mas, 1998), p.165.
[4]Ibid, p. 166.
[5]Ibid, p. 171.
[6]John Stot, Satu Umat, p. 23.
[7]Ibid, p. 52.
[8] Ibid, p. 86.

Penginjilan Dan Korelasinya Dengan Amanat Agung


Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial gereja pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari Amanat Agung, yaitu amanat yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga. Amanat tersebut dicatat oleh Matius, Markus, dan Lukas sebagai berikut:
1.      Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”  (Matius 28:18-20).
2.      Lalu Ia (Yesus) berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk, siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya; mereka akan mengusir setan-setan dalam nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Markus 16: 15-18).
3.      Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan aku akan mengirim kepada kamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat yang tinggi” (Lukas 24:46-49).
Menzies, Horton, Tomatala, serta Autrey berpendapat bahwa tugas inti dari Amanat Agung adalah pergi kepada segala bangsa, kemudian menjadikan orang-orang berdosa menjadi murid Kristus yang taat  untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan.[1] 
Pada topik “Penginjilan, inisiatif dan bukti kasih Allah,” penulis mengutip pernyataan Yesus tentang misi utama-Nya datang ke dunia ini. Menurut penulis jika pernyataan misi ini dihubungkan dengan Amanat Agung, maka pernyataan tersebut dapat disebut sebagai tujuannya, yaitu agar tidak seorang pun yang terhilang. Dalam korelasinya dengan gereja  sebagai penerima dan pelaksana amanat itu, maka pernyataan misi tersebut hanya akan terwujud jika gereja melakukan tugas penginjilan dengan taat sehingga orang-orang yang masih hidup dalam dosa memperoleh kesempatan untuk mendengarkan Injil keselamatan.
Stott menyatakan misi tersebut merupakan tugas gereja yang adalah ekklesianya Tuhan Yesus (kata “ekklesia” berasal dari bahasa Yunani, artinya “yang dipanggil keluar dari dunia ini, untuk menjadi milik-Nya, dan berada sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh ada dan terpisah, semata-mata hanya karena panggilannya”).[2]  Gereja dipanggil keluar dari dunia ini oleh Allah, dikuduskan-Nya,  kemudian mengutusnya kembali ke dalam dunia dengan satu amanat untuk memberitakan Injil kepadanya.  Berdasarkan  arti dari kata “ekklesia,” maka gereja seharusnya dipahami dengan dua arti yaitu sebagai gereja yang universal[3] yang artinya kumpulan dari semua orang yang percaya di seluruh dunia, dan gereja dalam arti kumpulan orang-orang yang percaya di satu lokasi tertentu atau disebut sebagai gereja lokal[4] atau kumpulan orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat atau lokasi tertentu, jadi bukan gereja dalam arti gedungnya, dan atau denominasi.
Berdasarkan penjelasan di atas, Amanat Agung adalah merupakan landasan gereja untuk melaksanakan tugas penginjilan, karena di dalamnya  terkandung wujud kasih dan kerinduan Allah kepada umat manusia, yaitu agar tidak seorang pun yang terhilang dan binasa. Perhatikanlah perintah-perintah berikut ini: “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28: 19), dan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk (Markus 16:16).” Dalam perintah tersebut, Tuhan Yesus tidak membatasi wilayah kerja gereja hanya dalam satu wilayah tertentu, atau hanya kepada suku tertentu, dan  atau kepada orang-orang tertentu saja. Perintah tersebut tersebut  memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu kepada semua mahluk yang ada di muka bumi ini.
Pada masa kini pun seharusnya gereja melaksanakan penginjilan berdasarkan strategi yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus, yaitu penginjilan dimulai dari daerah yang terdekat dahulu, kemudian ke daerah-daerah di sekitarnya dan terakhir ke daerah yang lebih jauh lagi yaitu bangsa-bangsa lain yang belum pernah mendengarkan berita Injil. Di sisi yang lain, Tuhan Yesus juga memerintahkan jikalau berita Injil keselamatan itu ditolak di satu daerah, sebaiknya gereja  meninggalkan mereka, dan memberitakannya kepada orang lain yang belum pernah mendengarkan Injil itu (Lukas 10: 1-11).
Amanat Agung memberikan beberapa rambu-rambu kepada gereja pada waktu melakukan tugas penginjilan.
1.      Gereja harus aktif, bukan reaktif.
Yesus berkata “pergi” dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti berjalan atau bergerak maju.[5] Jadi gereja harus bergerak maju untuk memproklamasikan Injil kepada dunia ini (Matius 28:16).
2.      Gereja jangan berhenti pada satu suku tertentu, atau kepada satu kelompok tertentu, tetapi gereja harus membuka mata melihat  semua suku bangsa  yang belum terjangkau. Gereja harus melihat semua lapisan masyarakat dunia ini yang belum mendengarkan Injil Kristus dan kemudian memberitakan Injil kepada mereka (Markus 16:16).
3.      Gereja harus memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa hanya dalam nama Tuhan Yesus (Lukas 24:47).
4.      Gereja harus memuridkan setiap orang yang telah percaya dan mendidik mereka menjadi murid yang taat kepada segala perintah Tuhan Yesus (Matius 28:19,20).
5.      Gereja jangan berhenti pada batas membuat orang menjadi percaya, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam persekutuan orang-orang percaya melalui baptisan  (Mat 28:19; Mark 16:16).
Berdasarkan Amanat Agung, Tuhan Yesus memberikan jaminan kepada gereja dalam melaksanakan tugas penginjilan sebagai berikut ini, yaitu:
1.      Gereja tidak bekerja sendiri. Yesus sebagai pemberi amanat tetap menyertai gereja-Nya (Matius 28:20).
2.      Setelah gereja melakukan tugas penginjilan pasti ada yang menerima Injil, mereka yang menerima (yang mempercayai berita Injil tersebut) dan dibaptis pasti diselamatkan (Markus 16:16).
3.      Tuhan Yesus akan mengirimkan Roh Kudus kepada gereja-Nya yang mengasihi-Nya dan yang rindu untuk melakukan tugas penginjilan (Lukas 24:49).
4.      Ada tanda-tanda yang akan menyertai gereja pada waktu melaksanakan penginjilan. Gereja mempunyai kuasa untuk mengusir setan dalam nama Yesus, gereja berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, gereja mempunyai kuasa untuk memegang ular, dan sekali pun minum racun maut tidak akan mendapat celaka, gereja meletakkan tangan atas orang sakit dan orang tersebut menjadi sembuh (Markus 16:17-19).
Dalam menjalankan tugas penginjilan, gereja tidak dapat meniadakan Amanat Agung.  Menurut penulis, apabila Amanat ini tidak ditaati sepenuhnya, penginjilan hanyalah merupakan program semata, dan gereja penuh dengan orang yang tidak memahami arti hidup menjadi orang percaya.



[1]Buku-buku yang dipakai sebagai buku riset dalam penulisan skripsi ini adalah Basic Evangelism oleh C. E. Autrey, Doktrin Alkitab oleh William W. Menzies & Stanley M. Horton, Penginjilan Masa Kini oleh Yakob Tomatala.
[2]John Stot, Satu Umat (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1990; Reprint ed. 1997),  p. 10.
[3]Henry C. Thiessen,  Teologia Sitematika (Malang: Penerbit Gandum Mas. 1992), p. 476-478.
[4]Ibid.
[5]Kamus Besar Bahasa Indonesia, p. 670.

Penginjilan, Inisiatif dan Bukti Kasih Allah Kepada Manusia


Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial gereja perlu dilihat dari sisi inisiator dan motifasi yang mendorong inisiator untuk melakukannya. Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mencatat bukti-bukti penting tentang inisiator dan motifasi yang mendorongnya untuk mengadakan penginjilan. Perhatikanlah fakta-fakta berikut ini yang tertera pada tabel di bawah ini. Alkitab mencatat dengan sangat jelas tentang sikap Allah terhadap manusia sebelum dan sesudah kejatuhannya ke dalam dosa.
Sebelum Manusia Jatuh dalam Dosa
Sesudah Jatuh dalam Dosa
1.      Hubungan Antara Manusia Dengan Allah Sangat Intim.
 Bukti-buktinya:
-   Allah memberi perintah langsung kepada manusia untuk beranakcucu, serta memenuhi bumi, dan menaklukkan bumi (Kej. 1: 28),
-   Allah menjelaskan jenis makanan yang layak untuk manusia (Kej. 1: 29),
-   Allah memberikan otoritas serta kepercayaan kepada manusia untuk mengusahakan taman Eden (Kej. 2:15),
-   Allah memberikan perintah larangan kepada manusia dan menjelaskan akibat yang akan dialaminya apabila tidak mematuhinya ( Kej. 2: 17),
-   Tuhan membuat manusia berbeda dengan mahluk ciptaan-Nya yang lainnya (Kej. 2: 9, 18-22).
2.      Manusia menerima sesamanya dengan penuh penghargaan (Kej 2: 23-24)
3.      Allah merupakan sumber kehidupan manusia.
 Bukti-buktinya :
-       Tuhan Allah menyediakan segala kebutuhan jasmaniah manusia (Kej 2: 8-9),
-       Tuhan Allah menyediakan kebutuhan jiwa manusia (Kej 2: 18-22).
1.      Keintiman Hubungan Itu Terputus.
Bukti-buktinya :
-    Manusia berusaha menarik diri dari perjumpaan dengan Allah dengan bersembunyi di antara pohon-pohonan dalam taman (Kej. 3: 8),
-    Manusia takut bertemu dengan Allah (Kej. 3: 9-10),
2.      Manusia tidak menerima sesamanya seperti pada waktu Allah menciptakannya, manusia cenderung menyalahkan  sesamanya, dan benda-benda lain di luar dirinya ( Kej. 3: 12),
3.      Perempuan akan mengalami sakit pada bersalin (Kej. 3: 16),
4.      Manusia harus bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama di muka bumi ini (Kej. 3: 17),
5.      Allah tetap campur tangan dalam kehidupan manusia.
Bukti-buktinya :
-      Allah membuat satu ketetapan tentang akan adanya penyelamatan di masa depan (Kej 3: 15),
-      Tuhan menjelaskan akibat yang harus dialami oleh manusia (Kej 3: 17-19),
-      Tuhan Berinisiatif menutupi ketelanjangan manusia (Kej 3: 21).

Tabel 1. Perbandingan Sebelum dan sesudah manusia jatuh dalam dosa.

Pada tabel di atas, satu bukti menyatakan bahwa setelah jatuh ke dalam dosa, “mereka takut bertemu dengan Allah” (Kejadian 3:8). Pada waktu Adam dan Hawa mendengar langkah kaki Allah, Adam dan Hawa lebih memilih bersembunyi  dari hadapan Allah karena takut bertemu dengan-Nya. Chales dalam Wycliffe Commentary  memberikan pendapat tentang kata “takut” sebagai satu keadaan takut disertai dengan perasaan terteror.[1] Tomatala menegaskan, perasaan takut dan terteror itu  terjadi karena Adam diperhadapkan kepada hukuman  kematian terhadap kebenaran (Kejadian 2: 17; 1 Petrus 2: 24) dan hidup untuk dosa sebagai akibat dari ketidak-taatannya.[2] Dalam keadaan itu, Allah tidak mendekati mereka dalam guntur atau  dengan panggilan yang kasar.[3]  Dalam kasus tersebut, posisi Adam secara yuridis (kata “yuridis” artinya menurut hukum; secara hukum[4]) terbukti melanggar perintah Allah.[5] Pada waktu Adam mengetahui dirinya telah bersalah karena gagal mentaati perintah Allah (Kejadian 2: 16,17), Adam  beserta isterinya berusaha untuk bersembunyi dari Allah. Dalam kasus tersebut, Allah-lah yang berinisiatif untuk menemukan mereka.
Berdasarkan catatan kitab Kejadian, penulis menemukan beberapa kebenaran berikut ini:
1.      Tindakan Allah untuk menemukan mereka tidak berhenti pada batas mencari, dan menemukan.
2.      Alkitab tidak mencatat bukti yang menyatakan Allah meninggalkan mereka dalam keadaan terteror.
3.      Alkitab juga tidak mencatat bahwa Tuhan Allah membuat alternatif lain seperti membinasakan mereka lalu menciptakan manusia yang baru dan yang taat secara mutlak kepada-Nya.
4.      Alkitab memberikan bukti yang bertolak belakang dengan pelanggaran Adam dan Hawa.
Dalam kondisi demikian pun Allah memberikan janji penyelamatan kepada Hawa. Inilah pertama kalinya Allah menyampaikan janji penyelamatan kepada manusia (Kejadian 3:15). Janji penyelamatan ini disebut “Protoevangelium.”[6] 
Untuk memahami pentingnya janji penyelamatan itu bagi manusia, marilah melihat pandangan Allah menurut Alkitab tentang keberadaan dosa dan manusia berdosa. Setelah manusia berdosa, ia menjadi manusia yang bersifat daging (Ibrani “בּשׂרdibaca bâsârartinya benar-benar daging sama seperti daging binatang), lemah dan berdosa[7](Kejadian 6:3), dan keberadaannya itu memilukan hati Allah (Kejadian 6:7). Pandangan Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru  tentang dosa dan manusia berdosa tidak berubah. Perhatikanlah tabel berikut ini:


Perjanjian Lama
Perjanjian Baru
Kejadian 6 :5-6: “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia dibumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”

Roma 3:10-18 : “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. ...rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”
Roma 3: 23 : “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah

Kejadian 6: “Berfirmanlah TUHAN, ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi,... sebab Aku menyesal,...”
Roma 6: 23: “Sebab upah dosa ialah maut....”

Tabel 2. Keberadaan Manusia Berdosa di Hadapan Allah

Berdasarkan pada tabel 2 di atas, nyatalah bagaimana Allah memandang dan mengambil sikap terhadap dosa dan manusia berdosa. Alkitab mencatat “Allah merencanakan untuk menghapuskannya dan atau memberikan “maut” sebagai upahnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “maut” didefinisikan dengan kematian atau membawa kepada kematian.[8]Definisi ini lebih mengarah kepada kematian fisik. Morris menegaskan bahwa kata “maut” memiliki arti lebih dari sekedar kematian fisik, tetapi kematian yang bersifat eskatologis (Yudas 12; Wahyu 2:11) artinya manusia berhadapan dengan kematian yang kekal.[9]
Ketidak-taatan manusia menyebabkan Allah menyesal dan berikhtiar untuk membinasakan manusia beserta seluruh mahluk yang ada di muka bumi dan Tuhan Allah melakukannya, tetapi di sisi lain Allah memberikan  kasih karunia kepada Nuh


beserta keluarganya (Kejadian 6: 5-8), dan juga kepada semua bangsa. Puncak dari perwujudan kasih itu dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus. Berikut ini laporan dari kitab-kitab Perjanjian Baru tentang misi tersebut.
1.      Dalam kitab Yesaya diberitakan bahwa Allah menjanjikan seorang penyelamat bagi Israel dan bangsa-bangsa lain juga (Yesaya 9:5; 45: 20-22), janji ini mengacu pada Yesus.
2.      Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik dijelaskan: Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Matius 18:11; Lukas 19:10).
3.      Injil Yohanes menyatakan: kehadiran Yesus di dunia ini merupakan bukti nyata dari kasih Allah kepada manusia. Ia datang dengan misi kasih, tetapi Allah menuntut satu syarat agar manusia dapat menerima keselamatan tersebut, yaitu dengan mempercayai-Nya (Yohanes 3:16).
4.      Kitab Kisah Para Rasul menekankan pemberitaan Petrus tentang Yesus yang telah diutus oleh Allah Bapa. Yesus disebut sebagai satu-satunya jalan keselamatan, dan tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya manusia dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 4:12).
Menurut Walter, Allah dalam kasih yang kudus berprakarsa memikirkan dan
melaksanakan “karya Penyelamatan”[10]yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus.[11]Menurut Abraham apapun penginjilan itu dimulai di dalam hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret.[12] Poros dari keselamatan itu adalah Salib Kristus (Roma 1:16; 1 Korintus 1:18). Dalam hal ini para teolog Biblika sepakat bahwa dalam Kristus-lah Allah melaksanakan tindakan penyelamatan.[13]


[1]Charles F. Pfeiffer (ed), The Wycliffe Bible Commentary (Old Testament) (Chicago: Moody Press, 1962), p. 7.
[2]Yakub Tomatala, Penginjilan Masa Kini (jilid 1), p. 7.
[3] Charles F. Pfeiffer, p. 7.
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia, p. 1016.
[5]Yakub Tomatala, p. 7.
[6] Ibid..
[7] William Wilson, Wilson’s Old Testament Word Studies, (Massachusetts: Hendrickson Publishers), p. 169.
[8] Kamus Besar Bahasa Indonesia, p. 639.
[9] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Jilid 2), S.v. “Mati, Kematian, dan Maut,” by L. M. Morris. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995; Reprint ed. 2000), p. 36
[10]Ibid. S.v. “Selamat, Keselamatan,” by G. Walters, p. 377.
[11]Ibid. p. 375.
[12]William J. Abraham, The Teologic of evangelism (Michigan: William B, Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, 1989), p. 17.
[13] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Jilid 2), S.v. “Selamat, Keselamatan,” p. 378.

Latar Belakang Masalah

Penginjilan merupakan salah satu tugas esensial gereja, karena  tugas ini diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus kepada gereja sebelum Ia terangkat ke sorga. Perintah itu disebut sebagai Amanat Agung, dan di dalamnya tertuang langkah-langkah yang harus dilakukan gereja pada waktu melaksanakan tugas ini.
Penginjilan sebagai satu tugas, pada mulanya ditanggapi oleh gereja sesuai dengan isi amanat yang diterimanya dari Tuhan Yesus. Alkitab memberikan catatan-catatan penting tentang pergerakan gereja mula-mula dalam meresponi tugas ini. Sebagai bagian dari tugas utamanya gereja masa kini pun masih mengakui penginjilan sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Menjadi pokok permasalahannya bagaimana gereja meningkatkan keefektifan penginjilan sebagai salah satu tugasnya, khususnya di tengah masyarakat yang majemuk.
Penginjilan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh gereja. Apakah gereja mampu menghadapi tantangan demi tantangan yang ditemukannya di tengah masyarakat dunia ini, khususnya ketika ia diperhadapkan dengan masyarakat yang majemuk? Atas dasar pemikiran ini, penulis mencoba menggali kebenaran firman Allah dan meneliti buku-buku hasil riset dari beberapa pakar yang membahas tentang gereja, penginjilan dan masyarakat di sekitar gereja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyajikan karya tulis ini dengan judul: “Penginjilan Di Tengah Masyarakat Majemuk: Tantangan dan Solusinya.”

Rabu, 11 Juli 2012

Mengalami Pertolongan dari TUHAN Yesus!

Markus 5: 21-34
Pendahuluan:
Hidup dan kehidupan kita di dalam rentangan waktu di bumi ini merupakan sesuatu yang :
  1. Bersifat real karena hidup manusia itu adalah nyata, dapat dilihat prosesnya, dan dirasakan suasanya,
  2. Tetapi hidup manusia itu juga merupakan satu mistery karena tidak seorang pun yang tahu dengan pasti dia harus lahir di keluarga mana, dibelahan bumi mana, dalam strata sosial yang seperti apa, bahkan tidak seorang pun tahu dengan pasti apa yang akan terjadi .
Dari sisi kehidupan yang bersifat mistery, terkadang kita tidak mengerti mengapa ini dan itu harus terjadi. Sebagai contoh : Dave Branon mengisahkan hal yang terjadi dengan anak mereka Melissa. Brannon menuliskan kisahnya di http://alkitab.sabda.org/illustration.php?topic=71
“Bagaimana ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan putri kami yang cantik, Melissa, diambil dari keluarga kami dalam kecelakaan mobil pada usia 17 tahun? Dan bukan kami saja. Sahabat kami, Steve dan Robyn, juga kehilangan putrinya Lindsay—sahabat Melissa—9 bulan sebelumnya. Dan bagaimana dengan Richard dan Leah yang putranya Jon, teman Melissa juga, terbaring dalam sebuah makam yang berjarak 45 meter dari makam Lindsay dan Melissa?"
Bagaimana mungkin Allah mengizinkan ketiga remaja kristiani ini meninggal secara berturut-turut dalam waktu 16 bulan? Dan bagaimana kami dapat tetap memercayai-Nya?
Kematian merupakan salah satu bentuk persoalan yang sulit untuk kita mengerti. Artinya masih banyak bentuk persoalan hidup lainnya yang mungkin dapat merampas kepercayaan kita kepada Allah dan alasan kita untuk hidup. Untuk itu, saya mengajak Bapak/ibu/saudara/saudari sekaliannya untuk membaca kitab Markus 5: 21-40
21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. “25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.” 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.“ 29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" 37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. 39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" 40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
Dari nats yang sudah kita baca tadi terdapat dua sesi Cerita yang menarik untuk kita bahas. Tetapi dari hasil penelusuran saya akan nats-nats tersebut, saya meringkasnya menjadi satu kalimat pendek:

Setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS

Bagaimanakah setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS?


Syarat-syarat Bagaimanakah setiap orang Percaya dapat mengalami pertolongan dari TUHAN YESUS


Rendahkan Diri dan Hati, Serta akuilah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan Keluar atas masalahmu

Hal tersulit bagi seorang pemimpin sekelas Yairus adalah merendahkan diri dan hati. Ayat 21b-24a menyatakanan (Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu). Perhatikanlah “tersungkurlah ia di depan kaki-Nya (kaki Yesus). Tindakan Yairus ini memiliki makna yang sangat dalam. Yairus mengakui otoritas Yesus jauh lebih tinggi darinya. Sekali pun banyak pemuka agama Yahudi pada masa itu tidak mengaku Yesus, tetapi Yairus memberikan sikap yang berbeda.

Sebagai seorang pemimpin rumah ibadat Yahudi, Yairus mengetahui bahwa hanya kepada Tuhan saja seorang Yahudi menyembah sesuai dengan hukum taurat. Lalu mengapa Yairus menyembah kepada Yesus? Tindakan Yairus ini sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa dia (Yairus) mengenal Yesus lebih dari sekedar manusia biasa. Dia mengenal Yesus lebih dari pada petinggi agama Yahudi lainnya. Yairus juga mengakui bahwa hanya Yesus saja yang dapat menyelesaikan masalahnya. Adakah Anda telah mengenal Yesus secara pribadi? Adakah Anda telah menjadikannya sebagai satu-satunya yang berkuasa atas hidupmu? Saudara, pengenalan yang benar kepada TUHAN Yesus akan menolong kita untuk menghormati-Nya lebih dari segala sesuatu yang kita punya. Pengenalan itu juga yang akan menolong untuk bertindak benar ketika situasi hidup tidak memungkinkan untuk kita bertindak benar. Marilah tinggikan Yesus sebagai Tuan yang berkuasa atas seluruh hidup kita.

Jangan Menyerah Untuk tetap berharap Pada-Nya

Yang menarik dari perikop ini adalah :
  1. Anak Yairus yang berusia 12 tahun sakit hampir mati (Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.“ Mark 5: 21b-23), dan
  2. Perempuan yang pendarahan 12 tahun (“25. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.” Mark 5: 25-26).
  3. Kedua orang ini berada dalam masalah yang sangat kritis. Ketika mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus, Markus mencatat “pada saat yang sama banyak orang datang kepada Yesus dengan berbagai keluhannya masing-masing.” Perhatikanlah ayat 21 dan 24b “21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. 24b.Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.” (dalam terjemahan yang lain disebutkan bahwa orang-orang datang kepada Yesus dengan kepentingannya masing-masing).
  4. Sungguh keadaan yang mustahil bukan? Namun Yairus dan perempuan itu tidak patah harap. Mereka menaruh pengharapannya kepada Yesus .
  5. Yairus seorang terhormat dan perempuan yang pendarahan seorang yang hina, keduanya mendapat perhatian yang sama dari Tuhan Yesus.
  6. Dalam kedua cerita ini Markus menuliskan fakta
    •  Jairus kepala rumah ibadat Yahudi dapat menemui Yesus dengan mudah, tetapi anak perempuannya malah meninggal.
    • Setelah 12 tahun Perempuan itu mencari kesembuhan kemana-mana hingga habis segala yang dia punya, ditambah lagi tradisi taurat yang tidak memperbolehkannya untuk bersinggungan dengan orang-orang di sekitarnya, harusnya membuat dia mati dalam keputus-asaan. Tapi 6. Perhatikanlah ayat 27-29 dan 35-40: 7. Apakah Yang membuat Yairus dan perempuan itu tidak menyerah dengan situasi yang sulit itu?
    8. Markus menyatakan kepada kita bahwa perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, dan Yairus mendengarkan langsung dari Yesus : : "Jangan takut, percaya saja!" . 9. Pada kesempatan ini saya mau mengatakan kepada sidang jemaat Tuhan di tempat ini, entah saudara mendengar perihal Yesus dari perkataan orang, atau saudara mendapat penegasan langsung dari Yesus, apa pun keadaan yang sedang engkau hadapi “percayalah bahwa Yesus pasti akan menolong sesuai dengan cara dan waktu-Nya.” 10. Ketika keadaan semakin tidak bersahabat, janganlah mundur dari Tuhan. Maju dan kobarkanlah semangat iman-mu. Mari kita berkata kepada tubuh, jiwa dan roh kita: “Tuhan aku tetap percaya kepada janji-Mu.”

    Kalau saudara masih ragu, saya mengajak saudara untuk menlihat Markus 9 :23 yang mengatakan “bagi orang percaya tidak ada yang mustahil.” dan Luk as 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

    Ijinkan Tuhan Bekerja Secara Tuntas Untuk Menolongmu


    Kehadiran Yesus di tengah umat manusia bukan hanya untuk memberikan janji-janji kosong. Pada Waktu IA menyatakan janji-Nya untuk menolong umat yang berharap penuh kepada-Nya, Ia pasti menolong dengan tuntas. Perhatikanlah fakta-fakta yang Markus berikan di dalam nats tadi :

    Pada waktu Yairus datang dan tersungkur di depan kaki Yesus, Markus menuliskan Yesus mengikuti Yairus, kemudian Markus menunjukkan bahwa perjalanan menuju ke rumah Yairus tidaklah mudah. Banyak orang berdesak-desakan di sekeling Yesus, dan akhirnya anak perempuannya yang berusia 12 Tahun itu meninggal.

    Apakah orang banyak dapat menghalangi langkah Yesus? Tidak...! Apakah kematian sang putri menghalangi Tuhan Yesus untuk menolong Yairus. Tidak...!
     Fakta-fakta lain yang Markus berikan di dalam :
    • Ketika penyakit perempuan itu sudah hilang, Yesus tidak cukup puas hanya menyembuhkan masalah fisik perempuan itu. Karena Yesus tahu bahwa pada hakikatnya perempuan itu masih mengalami masalah yang jauh lebih besar dari sekedar penyakit fisik. 
    • Pendarahan yang di deritanya itu memberikan dampak lain kepadanya. Tadi saya sudah membahas bahwa Perempuan itu hidup di tengah masyarakat yang berpegang teguh kepada hukum taurat. Pada zaman itu, apabila seorang wanita mengalami penyakit seperti ini, maka ia disebut sebagai seorang yang najis. Sehingga ia harus hidup terpisah dari orang-orang di sekitarnya. 
    • Bahkan apa pun yang bersinggungan dengannya juga disebut najis. Hal ini dapat kita temukan dalam tulisan Musa di Keluaran 15: 25 – 30. Dan apabila orang itu sudah berhenti dari penyakit pendarahan yang di deritanya ia harus membeli dua ekor burung tekukur untuk di sembelih sebagai korban pentahirannya.
    • Kitab Markus 5: 26 menegaskan keadaan wanita ini setelah 12 tahun menderita pendarahan ia sudah menghabiskan segala sesuatu yang ia punya. Dan selama itu pula ia harus menerima cap sebagai seorang “NAJIS”. Artinya bahwa wanita itu bisa jadi mengalami kepahitan dengan orang-orang di sekitarnya. Bisa jadi cap itu sudah susah lepas dari dirinya dalam pandangan orang-orang. Karena itu Markus melanjutkan kisah perempuan ini sbb: Markus 5: 30-34 berbunyi:
    •  “30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 
    • Sekali lagi perhatikan Markus 5: 34 “Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Kalau kita kembali kepada tradisi Taurat, para imam Yahudi mendapatkan otoritas untuk memutuskan apakah status seseorang itu sudah tahir atau belum. Markus mengingatkan bahwa otoritas Yesus jauh lebih tinggi daripada otoritas imam-imam Yahudi. Yesus berkuasa untuk memulihkan keadaan tubuh fisik seseorang, dan Ia pun juga berkuasa untuk menyelesaikan hubungan yang retak kepada sesama dan kepada BAPA. Yesus adalah Tuhan yang kepada-Nya para imam Yahudi turut sujud untuk menyembah-Nya. 
    Pada kesempatan itu Tuhan Yesus memulihkan status wanita itu sebagai orang yang sudah tahir. Yesus mengatakan di ayat 34 "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" di depan banyak saksi.
     Hari ini, kita melihat bahwa Yesus tidak memandang strata sosial seseorang. Siapa pun yang hari ini mendengarkan berita ini, Percayalah bahwa Yesus Kristus tetap sama baik kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya. Karena itu : 
    1. Rendahkan Diri dan Hati, Serta akuilah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan Keluar atas masalahmu, 
    2. Jangan Menyerah Untuk tetap berharap Pada-Nya 
    3. Ijinkan Tuhan Bekerja Secara Tuntas Untuk Menolongmu 
    Adakah pergumulan hidupmu sepertinya tidak terpecahkan? Mari datang pada Yesus. Berserulah pada-Nya.