Kamis, 02 September 2010

Pentingnya Menyadari Mengapa Harus Melayani TUHAN

 Kis 26: 12-23Dalam buku "Misi dari dalam Krisis" yang diterbitkan oleh Obor Mitra Indonesia, Jakarta 2003, hal 40-44, Bagus Surjantoro menulis dalam artikel berjudul "Alasan untuk Melayani Tuhan":


"Ada berbagai macam faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang melayani Tuhan. Tetapi faktor paling utama yang mendasari pelayanan yang sejati adalah panggilan Tuhan. Faktor panggilan Tuhan akan menjadikan seseorang hidup untuk melayani, bukan melayani untuk hidup. Karena panggilan itu pula, seseorang yang mempunyai pengalaman nyata akan kasih karunia Allah dalam hidupnya kemudian akan menjadikan kasih kepada Allah dan sesama sebagai dasar kehidupan dan pelayanannya. Orang yang memiliki motivasi kasih kepada Allah dan sesama inilah yang akan lebih `tahan banting` dalam pelayanan. Paulus adalah salah satu contoh seseorang yang memiliki panggilan Tuhan yang jelas dalam hidupnya. Itulah yang membuat hidup dan pelayanannya begitu luar biasa di dalam tangan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jika Allah memanggil, Dia tahu siapa yang dipanggil-Nya dan untuk apa. Jika Allah menghendaki kita melakukan sesuatu, Dia tahu bahwa kita sanggup melakukannya dengan anugerah-Nya. Allah kita adalah Allah yang Mahabesar dan Ia sanggup melakukan segala perkara. Dia yang mengatur alam semesta, Dia yang empunya bumi dan segala isinya, laut serta segala yang diam di dalamnya. Kitalah yang sering berpikiran picik dan kerdil, membuat Allah seolah-olah tidak mampu berbuat apa-apa. Kepicikan dan kekerdilan iman yang menjadi penghalang bagi kita sehingga kita tidak mampu melihat kebesaran Allah atas seluruh ciptaan-Nya, termasuk juga atas hidup kita." 

Proposisi : Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya.
Kalimat Tanya : Bagaimanakah Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya?
Kalimat Peralihan : Fakta-fakta bagaimanakah Anda dan saya dipilih Tuhan untuk melayani-Nya?

I. Sadarilah, Pelayanan itu adalah Ketetapan TUHAN (ay 16). 

Dalam nats ini khususnya ayat. 14-15 Paulus menjelaskan kepada Raja Agripa bagaimana TUHAN memanggilnya : "14. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang. 15. Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu."Perhatikanlah bagiamana Paulus menyatakan cara TUHAN memilihnya. TUHAN memilihnya bukan karena ia dapat memenuhi standar kebenaran Allah. Coba perhatikan catatan mengenai waktu pemilihan tersebut. Pada waktu itu, Paulus sedang dalam perjalanan ke Damsyk untuk tujuan menganiaya jemaat TUHAN yang ada di sana. Di situlah TUHAN menangkapnya serta menetapkannya menjadi seorang “pelayan-Nya."

Ditinjau dari waktu, dan proses pemilihan ini, sungguhlah satu perkara yang kontropersial. Bukankah TUHAN yang memilihnya adalah pribadi yang Maha Tahu, Maha Suci, Maha Adil, dan Maha pengasih? Keberadaan-Nya sebagai pribadi yang Maha Adil, mengharuskan TUHAN menghukum Paulus. Namun dalam nats ini Paulus menjelaskan bahwa dalam perjumpaannya dengan TUHAN di jalan menuju ke Damsyk tersebut, TUHAN malah memilih dan menetapkannya menjadi pelayan dan saksi-Nya.Peristiwa ini menjelaskan kepada kita, bahwa Paulus dipilih bukan karena siapa Paulus. Bukan karena ia memenuhi kriteria seorang pelayan Tuhan, tetapi TUHAN memilih serta menetapkannya menjadi hamba-Nya adalah karena IA sendirilah yang berinisiatif untuk melakukannya. Hal serupa juga terjadi dengan kita di zaman ini. Oleh karena itu, hargailah pilihan dan penetapan TUHAN yang telah menetapkanmu menjadi pelayan-Nya.

Ilustrasi : JIM CAVIEZEL adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil. Dan film-film yang dibintanginya juga tidak besar. Peran yang terbaik yang pernah dimainkannya adalah satu film perang dengan judul ”THE THIN RED LINE'. Di situ pun dia hanyalah salah satu peran di antara aktor-aktor besar yang bermain dalam film kolosal itu.Dalam The Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya.

Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.Akhirnya diadakanlah pertemuan dengan Jim untuk membicarakan tawaran untuk peran itu. Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya Jim harus belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam jim, kemudian menegaskan resiko terbesar yang mungkin akan dihadapinya. Katanya bila Jim memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karirnya sebagai aktor di Hollywood.

Dalam kesenyapan menanti keputusan Jim apakah jadi bermain dalam film itu, Jim bertanya pada Mel Gibson: 'Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?' Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih Jim murni karena perannya di 'The Thin Red Line'.Jim kemudian mengatakan : “Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!”

Penerapan : Kesadaran akan hal bagaimana TUHAN memilih serta menetapkan menjadi pelayan-Nya memampukan kita untuk melakukan pelayanan itu. Apa pun resikonya, tidak menjadi penghalang yang berarti untuk tetap mengerjakannya sampai tujuan Allah melalui pelayanan tersebut terwujud.

II. Ketahuilah bahwa Pelayanan tidak dapat dipisahkan dari kesaksian (ay. 16). 

Pelayanan Kristen dan kesakasian merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, jadi kalau pelayanan kita sebut sebagai wadahnya, maka kesaksian adalah isinya. Bayangkanlah seumpama satu wadah tidak dipergunakan, maka wadah itu tinggallah satu wadah yang dipenuhi oleh debu. Demikian juga halnya dengan isi yang berupa sesuatu benda, atau apa pun bentuknya. Tanpa tempat yang baik untuk menampungnya, itu akan berserakan kemana-mana, bahkan bisa rusak hingga menjadi seonggokan sampah.

Pdt. Nathanael Channing, dalam tulisannya dengan tema "BASIC INSTINCT 1 - Hakekat Pelayanan" halaman 1, mengutip pernyataan Luther yang mengatakan “Di sini saya berdiri saya tidak dapat melakukan yang lain, Tuhan tolonglah saya”. Nathanael menegaskan : "Pelayanan adalah:

“Respon atas kasih karunia Allah yang telah menyelamatkan manusia di dalam Yesus Kristus, dengan penyerahan diri sebagai hamba Allah yang diwujudkan melalui persembahan hidup yang kudus dan benar, dedikasi diri dalam memikul salib Kristus untuk menjalankan visi dan misi Allah dalam menyelamatkan umat manusia” 

Paulus menyebutkan tujuan TUHAN Yesus memanggilnya adalah agar ia menjadi "pelayan dan saksi." Kisah Para Rasul 26: 16. berbunyi :"Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti."

Nats ini mengajarkan eratnya hubungan antara pelayanan dan kesaksian. Pelayanan tersebut haruslah bersumber dari apa yang dilihat Paulus dari TUHAN. Nats ini juga mengajarkan bahwa sifat penyataan yang akan TUHAN perlihatkan itu bukanlah sesuatu yang sifatnya hanya pada saat Paulus ditangkap TUHAN menjadi pelayan-Nya. Namun TUHAN masih akan memperlihatkannya kepada Paulus. Hubungannya dengan konteks masa kini adalah hendaklah setiap pelayan TUHAN mendasarkan pelayanannya kepada penyataan Allah. Oleh karenanya, setiap pelayan TUHAN haruslah memiliki hubungan yang intim dengan sang empunya pelayanan itu.Di dalam Kisah Para Rasul 26: 17-18, rasul Paulus menceritakan tujuan Allah menetapkannya menjadi pelayan dan saksi itu demikian : "Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan."

Tugas yang berat bukan? Namun kita patut mencontoh Paulus. Sekali pun ia tahu resiko dari tugas itu, ia berkata dalam ayat 19 : "Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat" Di ayat selanjutnya jelas bagi kita apa akibat yang dialami oleh Paulus. Ia menceritakan bukti ketaatannya dalam melayani TUHAN.Ketaatan Paulus kepada perintah TUHAN dalam menyaksikan imannya yang baru tersebut mengandung resiko yang mengancam nyawanya. Paulus menceritakan : "Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku" (Kis 26: 20-21).

Di sini nyata bagi kita betapa beratnya resiko yang harus ditanggungnya. Tetapi kita melihat bahwa sekali pun ia harus mengalaminya, ia tetap menjalankannya. Alkitab menjelaskan orang-orang yang hidup dalam ketaatan kepada perintah TUHAN. Mereka sedia membayar harga untuk sebuah ketaatan, seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun pada sisi lain, Alkitab juga berbicara tentang ketidaktaatan dan akibatnya, seperti Saul, Yunus dan banyak raja-raja Israel.Perlu kita mempertanyakan mengapa Paulus tetap taat, sekali pun ia harus mengalami resiko sampai hampir terbunuh?

Ketaatan Paulus menentukan seberapa besar jumlah orang yang sadar akan keberadaannya yang berdosa. Ketika seseorang sadar akan keberadaannya yang berdosa, saat itu mata rohaninya mulai terbuka. Dengan demikian ia pun menyadari bahwa ia mebutuhkan sang Juruselamat. Ketaatan Paulus menentukan seberapa besar jumlah orang yang terlepas dari jerat kuasa iblis. Ayat ini menjelaskan rahasia mengalami pertumbuhan iman yang menuntun orang tersebut kepada kuasa TUHAN Yesus yang memerdekakannya secara sempurna.

Reinhard Bonke mengatakan ” Izinkan saya menceritakan sebuah rahasia kecil: Allah tidak menggunakan orang-orang berbakat khusus. Dia menggunakan orang-orang biasa seperti Anda dan saya untuk menyentuh dunia dengan kekuatan penyembuhan-Nya. Apa yang membuat pelayanan Reinhard Bonke semakin berkembang? Karena di dalam pelayanannya ia menyaksikan YESUS Kristus sebagai TUHAN dan Juru Selamat.

Ilustrasi : Dalam pembuatan film The Passion Of Christ, banyak tantangan dan kesulitan yang harus Jim Caviezel alami. Kadang kala ia tidak sanggup untuk melewatinya. contoh ketika ia harus memikul kayu salib yang ukuranya dan beratnya identik dengan salib Yesus. Waktu kayu tersebut diletakkan di bahunya, ia kaget betapa beratnya kayu tersebut. ketika kayu itu diletakkan di bahunya, bahunya tidak kuat menanggung beratnya beban itu sehingga lepas dari persendian. Akibatnya ia mengerang menahankan sakit tak terperi. bahkan ia sempat mengeluarkan kata-kata kasar karena kurang tanggapnya kru lain melihat apa yang dialaminya. Di sesi yang lain, ketika ia memerankan peristia pencambukan, dagingnya tercabik karena terkena tajamnya cambuk asli yang mengenai kulitnya. Jim menyikapinya dalam kebergantungan kepada TUHAN dalam doa-doanya. Jim dalam kesaksiannya mengatakan : Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.Singkat cerita, setelah melewati proses demi proses pembuatan film yang sangat sulit, di mana nyawa Jim terkadang harus dipertaruhkan. TUHAN melawat Jim dan semua Crew yang ambil peran di dalam pembuatan film tersebut. Bahkan pemeran prajurit Roma yang adalah seorang muslim setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakanPenerapan : TUHAN telah menetapkan Anda dan saya menjadi pelayannya, dengan tujuan agar banyak jiwa mengenal Yesus sebagai TUHAN dan Juruselamat pribadi mereka. Tuhan telah menempatkan kita pada posisi pelayanan yang tepat. Ada yang ditempatkan di sekolah, ada yang TUHAN tempatkan di tempat kerja. Mari layanilah TUHAN dalam kebergantungan kepada DIA yang telah mempercayakan pelayanan itu kepada kita. 

III. TUHAN Pasti membentuk Anda dan saya seturut kehendak-Nya (ay 17-18).GELANDANG Inggris, Frank Lampard meyakini timnya bisa menjuarai Piala Dunia 2010 kali ini. katanya, Three Lions mempunyai kualitas tim paling mumpuni dan merata. Hanya saja pengharapan untuk menjadi juara bisa jadi mimpi buruk jika mereka dipaksa untuk adu penalti.Inggris memang selalu bernasib buruk jika dipaksa adu tos-tosan ini. Sejak Piala Dunia 1990, Inggris tersingkir dari lima turnamen (Piala Eropa, dan Piala Dunia) lewat adu penalti. Masing-masing kalah dua kali dari Portugal, dan Jerman, serta sekali dari Argentina. Karena kutukan itulah, sekalipun yakin skuadnya punya potensi besar menjuarai Piala Dunia kedua kalinya, Lampard meminta rekan-rekannya untuk menghapus dulu memori buruk soal adu penalti."Harus diakui, adu penalti seolah jadi hantu menakutkan bagi kami. Dan, ini bukan menyangkut soal teknis. Kami semua sudah tahu apa yang harus dilakukan saat mengeksekusi penalti. Ali-alih ini adalah soal mental, dan mungkin menyangkut mengubah kutukan," ujarnya dikutip dari The Sun, kemarin.Ia kemudian mengeluh, entah kenapa adu penalti itu seperti kutukan yang tak bisa dihindari. Ia pun berterus-terang, jika saatnya nanti harus ada adu penalti, dan mental para pemain belum 'digarap' maka bukan tak mungkin nantinya para pemain justru akan saling menolak untuk jadi juru eksekusi."Tak peduli sehebat apapun kita bermain sepanjang 120 menit. Tak peduli setangguh apapun kita bertarung. Namun saat masuk adu penalti, kita akan berujar 'Oh, kita harus melakukan ini lagi'," ucapnya sembari mengumpat.Karena 'kutukan' itu sudah terpetakan dalam pikiran, lanjutnya, maka sulit untuk menghindari, dan justru jadi tambahan beban mental. "Ini jadi semacam penyakit yang harus disingkirkan dalam pikiran," imbuhnya. Lampard lantas merujuk pada tim Jerman yang dikenal jago dalam urusan adu penalti. "Itulah kenapa Jerman sangat jago adu penalti. Mereka punya sejarah bagus dalam adu penalti. karenanya mereka begitu percaya diri. Sedang kita dinaungi kutukan," ungkapnya.Latihan KhususUrusan adu penalti ini rupanya jadi perhatian serius pelatih Inggris, Fabio Capello. Pelatih asal Italia ini berjanji akan mengupayakan segala cara agar timnya benar-benar siap menghadapi 'neraka' tos-tosan ini di babak knockout nanti. "Kita selalu melakukan latihan khusus adu penalti setiap kali latihan. Tapi, tentu saja situasinya sangat berbeda. Sangat gampang mencetak gol dari titik penalti saat latihan lantaran tekanannya sangat berbeda dengan di pertandingan sesungguhnya," ujar Capello dikutip dari Mirrorfootball.com (dikutip dari http://www.tribun-timur.com/read/artikel/101691/Latihan-Khusus-Adu-Penalti).

Perhatikanlah betapa seriusnya para pelatih bola menghadapi Piala dunia beberapa waktu yang lalu.Pelayanan adalah satu pertarungan yang memerlukan keahlian tinggi.Dr. James D. Kennedy, penulis buku Evangelism Explotion mengadakan pelatihan khusus bagaimana menginjilis yang efektif kepada 3 temannya di Florida. Dr. Kennedy membuat satu analogi hal kesulitan melayankan Injil seumpama menerbangkan sebuah pesawat. Hal tersulit dalam menerbangkan pesawat adalah untuk menentukan saat kapan yang peling tepat untuk lepas landas, dan saat untuk mendaratkannya kembali.

"A Survey done by Christianity Today demonstrated that EE is today the most widely used tool for training pastors and laity for evangelism. EE not only empowers trainees to gain confidence in presenting the Gospel, it enables them to become trainers of other soul-winners, thus setting entire churches on fire for evangelistic outreach to friends and neighbours". (DR. James Kennedy, Ph. D) 
 "Pastor Kennedy has recaptured the biblical concept that the church's primary task is every-member evangelism.'The Church having come to Christ, is to go for Christ." (DR. Billy Graham). dikutip dari http://www.pemudakristen.com/news/ee.php.

Sebelum TUHAN benar-benar memakai Paulus sebagai pelayan dan saksi-Nya, rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 26: 17, mengatakan "Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka,"Perkara yang tersulit dalam kehidupan manusia adalah pada saat ia diasingkan dari kelompoknya. Kesepian merupakan musuh terbesar manusia. Namun apabila manusia dapat mengalahkan kesepiannya, maka ia akan dapat menanggung beban hidupnya. Menurut Les Carter, "adalah Kesepian perasaan pemisahan, isolasi, atau jarak dalam hubungan manusia berarti. Kesepian rasa sakit emosional, perasaan kosong, dan kerinduan untuk merasa dimengerti dan diterima oleh seseorang." (dikutip dari Tim Hansel, "Melalui padang gurun Kesepian" (Elgin, Ill: David C. Cook, 1991), 59-60.) yang dimuat di http://bible.org/seriespage/chapter-17-lessons-loneliness. Namun kita melihat bagaimana TUHAN memanfaatkan kesepian untuk berperkara dengan Paulus.

Hal serupa juga dialami oleh Bruce E. Olson. Dalam bukunya berjudul ”Brucho demi salib ini, Kubunuh Kau” mengisahkan bagaimana pengalamannya bersama dengan TUHAN. Ia adalah seorang muda dengan usia 19 tahun waktu ia harus meninggalkan rumah dan pergi ke pegunungan Amerika Selatan. Ia sadar akan panggilan TUHAN kepadanya. Panggilan itu dia mulai rasakan saat ia masih berusia 14 tahun.Waktu Bruce menyadari panggilan TUHAN kepadanya, ia mulai mempertanyakan siapakah Tuhannya. Ia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan itu, tetapi tidak seorang pun dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya.

Sebagai seorang penganut Lutheran dari kecil, Bruce mengenal Tuhan sebagai TUHAN yang keras dan pasti mengadili perbuatan manusia menurut perbuatannya. Bruce juga mengenal Tuhan yang lain dari sekolahnya. Semua ini membuatnya bingung.

Dalam pencarian jawaban tersebutia membaca kitab Yohanes dan menemukan TUHAN yang berbeda. Ia menemukan TUHAN yang mempunyai belas kasihan kepada-nya dan kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan menghendakinya melayani di Amerika selatan, yaitu di antara suku Indian Motilone.Kemudian Tuhan mengeluarkannya dari lingkungan keluarganya, jauh dari sarana komunikasi modern. Hampir mati dibunuh, dan hampir mati karena sakit lever yang tidak diobati, namun dibebaskan Tuhan dengan cara yang ajaib.

Sesuai dengan waktu TUHAN, Brucho berhasil mengadakan kontak dengan suku Motilone. Melalui pelayanan Brucho yang senantiasa bergantung kepada TUHAN, orang-orang Motilone yang terkenal sebagai suku kanibal, dan ganas takluk kepada Injil Kristus. Dampaknya orang-orang Motilone diubahkan TUHAN. Hal ini menjadi satu bukti yang juga mempengaruhi suku-suku indian di sekitarnya untuk menerima Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamatnya.

Penerapan : Pembentukan TUHAN terhadap setiap kita berbeda satu dengan yang lainnya. Namun dalam proses pembentukan itu, setiap orang pasti akan merasakan hal yang tidak mengenakkan. Namun setiap orang yang berhasil melalui proses pembentukan itu pasti akan melihat hasil, dimana TUHAN Turut bekerja. Dan pada akhirnya tujuan Tuhan dalam pemilihannya kepada kita sebagai pelayannya akan tergenapi.

ditulis oleh : Manto Manurung, S.Th.

Kamis, 08 Juli 2010

The effective prayer


John 14: 12-14, Matthew 11: 25-30; 21: 21-22

Richard F. Ames  in his writing titled "Keys to Effective Prayer" put forward the facts found by  Barna Research poll: "More than four out of five [U.S.] adults (82%) pray during a typical week." That may sound impressive, but how many pray every day? Remember that in the "outline prayer," Jesus taught us to pray
daily (Matthew 6:11).

     Does prayer actually change things? According to Barna Research, "Americans believe in the power and impact of prayer. Four out of five (82%) believe that ‘prayer can change what happens in a person’s life.’ (1994)." Do you personally believe that? (quoted from http://www.tomorrowsworld.org/cgi-bin/tw/tw-mag.cgi?category=Magazine25&item=1104179053).



What is the effectif prayer? The effectif prayer is not prayer that the Lord answered instantly. There’s no “magic formula” that will cause a prayer to be answered in the exact way you want, The Bible teaches how to keep our prayers become efective.

The Effective Prayer life is determined by: 

I. Recognition To the Lord (Matt. 11: 27)
How can we know God?- In the prayer Jesus clearly implied that we can know the truth of God personally through Jesus. 
 - He has traveled a path that is not human because of His love to mankind. 
 - Jesus in his humanity prostrate ourselves to the will of God the Father, so also should we in our every prayer. 

II.
Our response to the call Of The Lord to Pray (Matt. 11: 28)."Come unto Me, all who pooped and heavy load, I will give relief to you." 
- God is calling each person who experienced fatigue in his spiritual life. 
- God promises that when we respond to his call, He will give relief to us. 
- Even as He will answer our prayers

III. How Intimate our relationship with God (Mathew 11: 28-30)
Jesus said at Mathew 11: 28-30 "Come unto me, all ye that labour and are heavy laden, and I will give you rest. Take my yoke upon you, and learn of me; for I am meek and lowly in heart: and ye shall find rest unto your souls.  For my yoke is easy, and my burden is light."

Thayer Thayer Defining "Come" as  
1) come hither, come here, come
2) interjection, come!, come now!

The point is, how we are respon for his calling. Jesus wants you and I responded it. He also wants you and I have an intimate relationship with him. He promised that if we responded to the call, He will give relief to us.

IV. Is How big is our Faith in God (John 14: 12)."Whoever believes in Me (John 14: 12), ... And whatsoever ye shall ask in prayer with full faith (Matt. 21: 21-22)"
  • Believe it comes from the Greek word "Pistis" which means: to respect the human relationship to God belief.
  • Believe it because it knows God's faithfulness to fulfill His promises to mankind

Theology of Prayer

Prayer, that's one word that is not alien to human beings who acknowledge the existence of a divine person.

Grab Wisdom

World Cup, an arena football team that really attracted worldwide attention. From June 11 until July 11, 2010, we can see 32 teams from 32 countries and five continents will compete in the sport complain ability of football. With bears the name of the State and nation, theystrive to achieve their main objectives, namely to get the World Cup. Cup made of gold and copper, with 36 cm high and weighs approximately 5 kg is a very valuable award price.
There are positive and negative sides of the conduct of this World Cup. On the positive side for us, we can be entertained with the game, and perhaps for families who enjoy the game, can watch together so they can familiarizing familial relationships. While for the southern African country, of which the field of tourism or any other benefit in the material because of the many people who come to the State. On the negative side, it may encourage gambling and other bad things caused by the fever that ball.
All things, if pondered will definitely get a new wisdom. Especially accompanied by fear of the Lord. Similarly, this 2010 World Cup. If they are struggling to obtain that prize trophy, what should we strive for in life? Is our ultimate goal? If we want to be rich, too many rich people who committed suicide.If  we want fame, many famous people who stress to their lives. If we want great power, too many powerful people who loathed. So what are we fighting for?
King Solomon gave the following advice: "How much better is it to get wisdom than gold! and to get understanding rather to be chosen than silver!" (Proverbs 16:16). In another part, namely in Proverbs 4: 7, Solomon said "Wisdom is the principal thing; therefore get wisdom: and with all thy getting get understanding." And finally Solomon stressed the importance of seeking wisdom of the most high. "The fear of the LORD is the beginning of wisdom: and the knowledge of the holy is understanding." (Proverbs 9:10)
If the event World Cup games has the largest audience beyond the Olympics, our lives are also a lot petandingan people see around us. It is taught by Paul in his epistle to the Philippians. Paul is a man who was transformed in an extraordinary manner by the Lord Jesus Christ. Encounter with God that changed his life, put a deep impression in his heart, and that changing one level, where it considers that its main purpose. He said: "Yea doubtless, and I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord: for whom I have suffered the loss of all things, and do count them but dung, that I may win Christ." (Philippians 3:8)
Paul did not make such a dark past a stumbling block to faith in Christ, but he has forgotten that behind him and turn to what is in front, "I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus."(Philippians 3:14)
If there is a football game in the striker, defender, goalkeeper and the referee, as well as spectators, in the Christian life, we also asked the courage to go to war to proclaim Jesus Christ of Nazareth, to maintain our lifelong faith, keep our hearts from all evil, still looking God as a regulator of our lives, and the people around us whether we are the ones who watched the game win or lose this faith.
Hebrews 12:1-2: "1. Wherefore seeing we also are compassed about with so great a cloud of witnesses, let us lay aside every weight, and the sin which doth so easily beset us, and let us run with patience the race that is set before us, 2.  Looking unto Jesus the author and finisher of our faith; who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God."
God Bless ~

Giant at OT, Are That really?

Really Giant humans ever existed on this earth? Is there a story about a giant human being is only one myth? Here is an article that discusses the existence of giant humans as evidenced by the results of the discovery of human bones from giants. To read the full article, click the following link.http://www.biblebelievers.org.au/giants.htm

Giants, the Bible, & Enoch

The BIBLE specifically details features ofthe GIANTS:

Deuteronomy 3:11 - Foronly Og king of Bashan remained of the remnant of GIANTs; behold, his bedsteadwas a bedstead of iron; is it not in Rabbath of the children of Ammon? ninecubits was the length thereof, and four cubits the breadth of it, after thecubit of a man.

Isaiah 17:4 -And there went out a champion out of the camp of the Philistines,named GOLIATH, of Gath, whose height was six cubits and a span.

2 Samuel 21:20 - And there was yet a battlein Gath, where was a man of great stature, that had on every hand six fingers,and on every foot six toes, four and twenty in number; and he also was born tothe GIANT.

1 Chronicles 20:6 - Andyet again there was war at Gath, where was a man of great stature, whose fingersand toes were four and twenty, six on each hand, and six on each foot: and healso was the son of the GIANT.


see full article 

Giant at Canaan Land


 Version 1:This is my first time seeing this even hearing about it. A long time friend of mine sent it today. The best I can tell is that it is the area of the Greek Hellenistic
influence around the time when Alexander The Great died in 323 BC. When David slew Goliath of Gath, he was reported to be a Philistine. The Bible isn’t detailed except to say Goliath had 4 kinsmen and maybe these are some of his kinsmen or countrymen as mentioned, rather than just a big Philistines.

giants from the days of the bible...
Version 2:
I thought this was really cool, how scientist keep finding proof of biblical stories!

Remember the old testament story of how the Israelites were afraid because of the GIANTS in the land of Canaan .

Numbers 13:33 There we saw the GIANTS (the descendants of Anak came from the GIANTS); and we were like grasshoppers in our own sight, and so we were in their sight."






Dikutip langsung dari " http://www.truthorfiction.com/rumors/b/Biblical-Giants.htm"

Rabu, 07 Juli 2010

Reward

Proverb 10:16 The wages of the righteous bring them life,cbut the income of the wicked brings them punishment.d
 Once upon a time there was a small child around the age of 5 years old are invited to go a walk with his father. Once entered a toy shop, the little boy saw a game of cards and he most wanted. This kid wants to collecting and he asked the father. 
Her father saw her things, and he was confused because there are playing cards it is a gift or bonus from a toy robot that was very expensive. Of course, toy gift cards can not be taken despite the fact that free. His father had to buy a toy robot that was not desired by the father or child to obtain the desired child. Yes, probably like that picture of ourselves to God. We want to get a lot of blessings from God. 
Starting from getting the value of good education, wealth, spouse, or whatever you want, we asked him to God. And that's all a salary or bonus as an unwanted gift card boy. So, what we have to pay a robot with expensive so we get the gift card? The first thing we can do is seek the kingdom of God and his righteousness. Because it is written, "But seek first the kingdom of God and his righteousness, then all these things will be added unto you." (Matthew 6: 33) Is it true that by doing this we can get a blessing from God? The answer is yes, because God's promises will not fail. By know God better and better yet, we can get a much more beautiful blessing. May not get the blessings that we want like long ago. But with the passage of time to try to seek the kingdom of God and his righteousness, then we demand that formerly could turn into a demand for other, more important for our lives. The second thing is to keep doing this "Ask and it shall be given unto you, seek, and ye shall receive, knock, the door will be opened to you." (Matthew 7:7) Yes, we mean active diligently to face Him and do what is desired by our Lord, Jesus Christ. Because we must remember that we have a life debt to the Lord Jesus who has saved us from the wages of sin is death. Although there are people who say, "I am not owed his life to Jesus, I did not ask Him crucified to atone for my sins, why should I bother to obey the Alktab!" However, it has happened, useless to complain and grumble. But in fact we must do His commandments. Because apart from that form of revenge His love to us, we then received wages in the world (Peace and Joy) and big wages in Heaven (wages exceeding the beautiful in the world). "So do not you let go of your trust, because of large wage that awaits him." -Hebrews 10:35 - God Bless ~ Nathanael Marvin June 28 at 6:11 pm

Mother

M is for the many things she gave me,
O means only that she's growing old,
T is for the tears she shed to raise me,
H is for her heart of purest gold,
E is for her eyes with lovee light shining,
R means right and right she'll always be!
put it all together they spell MOTHER!
a word that means the world to me.:)

Who Am I?

(Psalm 139:1-18)
"Because you did not receive a spirit of slavery that makes you become scared again, but you have received the Spirit that makes you a child of God. By that Spirit we cry:" Abba, Father!" (Romans 8:15)


A mother, with feelings and how could destroy his own heart through the words of insult and invective that he was saying because only the children make mistakes unintentionally. Often this little girl, just because he dropped the pot or glass lid, faced with the anger her mother, who then insults him by saying that he existed, ah illegitimate, the ank despicable, stupid ank, and naughty children who only became bebab for parents. These words are often said to his mother and eventually the little girl grew into a teenager who is full of guilt, burden, and low self-esteem.However, in the struggle to find his true identity, he found Jesus who would accept him as is. He knew that he was an illegitimate child, but she knew that GOD was menenenun him since the womb. He knows that he is a despicable child, but for the Lord he is masterpiece. He knows he bahhwa adalh a silly and sometimes do things wrong, but he also knows that he created in the image and likeness of God Himself and that God had to delete and forget all the mistakes. God died for him, God menggedong him and loved him.The girl was now possess a beautiful self-image since he accepted Jesus as his personal savior. For himself, he is a new creation, has been reborn. Her mother remains as before, insulting him and harassing him, but he knows that it's all past and have no relationship with him now. Now he is a child of God, daughter of the kingdom, and the fact it has changed the world. Like her, you are also very valuable in the eyes of God! Did you know that?

quoted from e-mail that was posted by a ping-ping into my facebook on July 4 at 6:13 pm

GIGO

Good idea In Good idea Out. The mind is something big impact on our lives.Where to use your mind, we can remove the idea / ideas, models, etc. imagination. With our thoughts can create our dreams, and with the power of the mind that makes us more determined to obtain our dreams.
But many problems occurred. The world is now being offered something that instant and just want to make us feel happy, can enjoy life as the world can offer, rather than spending time wasted for the Lord, that we forget, what is desired by the creator of living human beings?
To think of it, can we take the example of an electronic device. For example, cell phone, if we buy the phone of course we'll get a complete set of phones along with their application and a guide book to use the mobile phone. The creators want us to use the appropriate phone manual so that we can take care of phones that we buy it and use applications and functions as possible.
Thus our lives, our Creator made us with the whole existence (although physical disabilities, along with deficiencies that we have when we are born) and one book that can guide our lives have now, namely the Bible. If we want to know how to wear and use this with a good human being, then we must study the manual. If we read the Bible carefully, it is very rich knowledge about ourselves to this story.
And remember, if we read the Bible, we put our minds with positive things, because the Bible is very good. And after the positive things that go in our minds, then we can do more positive things. And vice versa if the negative things that enter our minds.
If you want to grow maybe we can fill this paragraph, we think,"Finally, brethren,

  1. things are true:?,
  2. all noble:?,
  3. all fair:?,
  4. all that's holy:?,
  5. all the sweet:?,
  6. all that bad to hear:?,
  7. whatever is admirable and praiseworthy:?,
think about such things. "Philippians 4:8

  1. "And what have you learned:?
  2. and what you have received:?,
  3. and what ye hear:?
  4. and what ye have seen me (Paul):?, do it. And the God of peace will be with you. "
Philippians 4:9

God Bless~

dikutip dari mail yang diposting Nathanael Marvin di facebook July 5, 2010 at 6:43am

Senin, 19 April 2010

Mama, Ayah, saya merindukan Kalian!


















Mama dan Ayah, kalian adalah tokoh terbesar dalam hidupku. Tanpa kalian saya tidak mungkin ada seperti sekarang ini. terima kasih mama dan ayahku tercinta.




















Dari kecil kecil hingga aku besar seperti sekarang ini, kalian tetap menyatakan kasih sayang yang penuh kepada saya. Sekali pun hidup begitu berat, tetapi tiada kata menyerah bagi kalian. Kalian adalah orang tuaku yang tiada duanya bagi saya.





















Terima kasih mama, terima kasih ayah untuk semua kasih dan sayang kalian dalam hidup saya.

Terima Kasih Mama

Oh, oh mama,
mama yang kusayang,
aku cinta pada mama seorang

hanyalah mama yang slalu mengasih
kasih mama kasihnya yang sejati

mama yang tercinta
mama yang tersayang
mama yan terscinta
mama tersayang.

Rabu, 10 Juni 2009

ALAT PILIHAN TUHAN !

( 2 Tim 2:1-7 , 14-15)
Saulus lahir kurang lebih empat tahun setelah Yesus. Yesus lahir di Betlehem dan dibesarkan di Nazaret, sementara Paulus lahir di Tarsus dan besar di Yerusalem. Yesus belajar Taurat dari orang tuanya dan pengajar-pengajar di Sinagog. Paulus belajar dari Gamaliel seorang guru besar di sekolah unggulan, yaitu sekolah Hilel. Yesus belajar ilmu pertukangan, dan Paulus belajar ilmu pertendaan.
Sesaat sebelum Saulus memulai pelayanannya, ia kembali ke Tarsus. Dari sudut pandang manusia, Saulus kurang beruntung karena kehilangan kesempatan menjadi saksi mata peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah keselamatan, yaitu pelayanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga. Saulus juga kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pencurahan Roh Kudus dan kebangunan rohani pertama yang melahirkan gereja mula-mula. Saulus baru kembali ke Yerusalem ketika gereja sedang bertumbuh dengan sangat pesat. Para pemimpin agama Yahudi yang berada di sekelilingnya serentak meracuninya dengan kebencian terhadap orang-orang percaya. sehingga Saulus yang menonjol di antara teman-teman sebayanya, langsung memimpin penganiayaan terhadap gereja Tuhan. Stefanus, martir Kristen yang pertama, dirajam orang banyak yang dipimpin oleh Saulus. Tidak berhenti sampai sampai di situ, Saulus terus menngejar orang-orang percaya yang lain. Sampai kemudian ketika Saulus dalam perjalanan ke Damsyik dengan membawa surat kuasa dari Imam Besar untuk “mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan” (KPR 9:1), Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya untuk menyelamatkan dan memanggilnya untuk menjadi alat pilihan-Nya (KPR 9:1-19a). Kepada Timotius, Paulus menyaksikan,
- “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya yang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya . . .
- Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia utk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yg paling berdosa.
- Tetapi justru karena itulah aku dikasihani, agar dalam diriku, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal (1 Tim 1:12-17).
Sesungguhnya, Paulus memang contoh yang baik bagi kita semua yang rindu untuk menjadi alat pilihan Tuhan.


Seorang yang mau menjadi alat pilihan
harus mempunyai kesadaran kudus yang berganda:
  1. Sadar betapa najisnya dosa dan betapa kudusnya Allah 
  2. Sadar betapa sedihnya Allah melihat orang berdosa dan betapa baiknya Allah terhadap orang percaya!
Kesadaran yang pertama mendorong seseorang untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Kesadaran kedua mendorong seseorang untuk melayani dengan sungguh-sungguh.
Di Efesus, pada zaman itu, banyak sekali orang yang suka bersilat kata dengan berbagai omongan yang kosong dan tak berguna bahkan hanya menambah kefasikan dan kekacauan. Untuk itulah, Paulus memberi nasihat kepada Timotius: Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai SEORANG PEKERJA YANG TIDAK PERNAH MALU UNTUK MEMBERITAKAN INJIL! (2 Tim 2:14-16). Ttidak sekedar memberi nasihat kepada Timotius, tetapi Paulus telah memberikan teladan melalui hidupnya sendiri sebagai seorang yang hidup untuk memberitakan Injil. Lihat saja berapa banyak kota, pulau dan propinsi yang dia telah taburi dengan Injil:
  • Dalam pelayanan perdana: (pada saat dia berusia 36-42 tahun) di Tarsus
  • Dalam pelayanan bersama Barnabas: (pada saat dia berusia 43-45 tahun) di Antiokhia
  • Dalam perjalanan misi pertama: (pada saat dia berusia 46-48 tahun)
    • Antiokhia Syria, Siprus, Perga, Antiokhia Pisidia, Ikonium, Listra, Derbe, Troas
  • Dalam perjalanan misi kedua: (pada saat dia berusia 49-52 tahun)
    • Antiokhia Syria, Derbe, Listra, ikonium, Antiokhia Pisidia, Troas ; dilanjutkan ke
    • Filipi, Tesalonika, Berea,Athena, Korintus, Kengkrea, Efesus, Kaisarea
  • Dalam perjalanan misi ketiga (pada saat dia berusia 53 – 57 tahun)
    • Antiokhia Syria, Galatia dan Frigia Efesus, Makedonia, Akhaya, Troas, Miletus,
    • Tirus, Ptolemais, Kaisarea.
Zaman sekarang ini, banyak orang Kristen yang semangat sekali berbicara tentang business, hoby, atau politik atau bahkan rumor, tetapi mereka merasa enggan bahkan malu untuk berbicara tentang Injil. Mereka merasa cukup dan puas dengan mendengar atau berbicara tentang Injil pada hari Minggu selama kebaktian. Ada pengerja-pengerja Tuihan yang baru melayani setahun dua tahun sudah merasa seolah-olah gereja bahkan Tuhan berhutang kepada dirinya. Akan tetapi, Paulus, ketika berada di Korintus, menjelang berakhirnya perjalanan misi ketiga, setelah melayani hampir 25 tahun, masih bersaksi kepada jemaat di Roma, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (Roma 1:14). Paulus tidak pernah merasa enggan atau malu untuk memberitakan Injil, sebaliknya, Paulus justru merasa malu jika tidak memberitakan Injil karena baginya sama seperti orang yang tidak membayar hutang.
 
Paulus bukan sekedar memberi nasihat, tetapi juga telah memberi teladan bagaimana melayani bagaikan OLAHRAGAWAN YANG PATUH PADA PERATURAN! John Stott mengungkapkan, “Hidup Kirtiani sering disamakan dalam Perjanjian Baru dengan perlombaan, bukan dalam arti bahwa kita harus saling bersaing . . . , melainkan dalam arti yang lain: dalam ketekunan berlatih untuk mendiiplin diri (1 Kor 9:24-27), menyisihkan segala hal yangbisa menjadiperintang (Ibr 12:1,2) dan di sini : dalam hal mematuhi peraturan.”. Mengapa Paulus menekankan kepada Timotius pentingnya mematuhi peraturan bahkan sampai di saat-saat terakhir kehidupannya? Karena salah satu tugas Timotius yang utama di Efesus adalah untuk menghadapi pelayan-pelayan yang palsu, yaitu: mereka yang senang mengajar tetapi ajarannya tidak benar dan mereka yang giat melayani tapi hidupnya tidak benar. Mereka bagaikan olahragawan yang kuat dan trampil tapi selalu didiskulifikasi karena tidak mengikuti peraturan. Dengan kata lain, Paulus sedang mengajarkan kepada Timotius dan setiap hamba Tuhan untuk menjunjung tinggi satu peraturan: Peliharalah ajaran yang benar yang diteguhkan dengan hidup yang benar! Itulah sebabnya Paulus memberi naihat kepada Timotius berulang kali:
  1. Bertekunlah dalam membaca kitab-kitab suci (1 Tim 4:13)
  2. Awasilah dirimu sendiri dan aweasilah ajaranmu (ay 16)
  3. Jadilah pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kau ikuti selama ini (ay. 6)
Akhirnya, Paulus memberi nasihat atau lebih tepat amanat terakhir:
“Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan dating waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akanmengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskankeinginan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2 Tim 4:1-5).
 
Selanjutnya, Paulus pun tidak sekedar memberi nasihat, tapi memberi teladan bagaimana melayani bagaikan PETANI YANG BEKERJA KERAS. Kenyataan tersebut dibuktikan bukan hanya dari fakta: betapa banyak gereja yang berhasil didirikannya, tapi juga betapa banyak surat yang ditulisnya. Padahal, Perjanjian Baru jelas-jelas menggambarkan Paulus adalah hamba Tuhan yang sangat sibuk, jika bukan yang paling sibuk. Akan tetapi, Paulus jugalah yang menuliskan 13 atau 14 surat dari 27 kitab Perjanjian Baru. Ketika dia mengatakan bahwa petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya, dia tidak sedang berbicara tentang kenikmatan hidup di bumi ini. Dia sedang menunjuk kepada kenikmatan kekal yang Kristus sediakan pada hari-Nya (Lih. 2 Tim 4:8). Jemaat dan pelayan Tuhan pada zaman ini harus waspada terhadap kecenderungan untuk mencari pelayanan yang mudah dan enteng saja, agar tidak mengganggu kesukaannya untuk menikmati rumah yang mewah, makanan yang lezat, liburan yang santai, rekreasi yang menyegarkan. Semua itu tidak salah, tapi jika itu menjadi yang terutama, maka kita hanya akan menjadi alat Tuhan yang gampangan dan obralan. Seorang yang mau menjadi alat pilihan Tuhan pastilah suka bekerja keras! Paulus bekerja keras seumur hidupnya. Di usianya yang ke 65, setelah melayani 35 tahun, dia berada di penjara yang kumuh, tanpa sanjungan tapi justru ditinggalkan oleh rekan-rekan sepelayanannya sendiri, dengan hanya memiliki sebuah jubah tua dan buku-buku (Lih 2 tim 4:9-13). Akan tetapi, Paulus sama sekali tidak meratapi nasibnya, dia berglory karena yakin bahwa dia akan menikmati hasil kerja kerasnya di dalam kekekalan!
 
Akhirnya, Paulus juga bukan sekedar menasihatkan, tapi juga memberi teladan bagaimana melayani bagaikan SEORANG PRAJURIT YANG BAIK. John Wesley Brill menyatakan dengan tegas, “Prajurit tidak berperang dengan senantiasa memikirkan soal kelezatan dan kesenangan atau persoalan pribadinya, melainkan ia harus rela mengalami kesusahan dan penderitaan yang besar.” Yang terpenting, dia dapat memenangkan pertempuran dan menyenangkan hati komandannya. Berbeda sekali dengan kecenderungan zaman ini yang suka mendaftarkan gelar, sertifikat, dan lencana penghargaan, Paulus hanya dapat mendaftarkan berbagai penderitaannya sebagai prajurit Kristus.